Lebih Untung KPR Rumah Atau Membayar Secara Tunai Bertahap?
Ilustrasi (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Beberapa tahun belakangan ini penawaran cara bayar yang memudahkan konsumen membeli hunian semakin banyak ditawarkan developer dan bank. Lantas lebih untung KPR rumah atau membayar secara tunai bertahap alias menyetor langsung ke rekening developer?

Bank memberikan kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA) dengan bunga promo rendah dengan bertambahnya masa fixed (tetap) yakni sampai lima tahun, pengembang menawarkan cara bayar tunai bertahap yang semakin panjang 10 sampai 15 tahun atau nyaris sama dengan tenor KPR/KPA 15–20 tahun.

Direktur Utama Bank BTN, Maryono dengan tegas mengatakan gunakanlah KPR, terutama rumah yang dibeli untuk dihuni sendiri, bukan untuk investasi.

“Karena jauh lebih aman dan terjamin. Bank akan mengecek legalitas proyek dan kredibilitas developernya serta meminta garansi developer bahwa proyeknya pasti dibangun sesuai janji. Tenor kredit pun bisa jauh lebih lama sehingga cicilannya lebih ringan,” tambahnya, baru-baru ini.

Membeli dengan KPR, lanjutnya, menuntut konsumen menyediakan uang muka dan membayar biaya-biaya legalitas dan biaya KPR. Namun, nilainya moderat baik untuk konsumen maupun bank. Yakni, rata-rata 15–20 persen dari harga rumah. Pendapat serupa dipaparkan Senior Vice President, Head Mortgage VC Bank Permata, Dewi Damajanti Widjaja.

“KPR adalah cara tercepat, termudah, dan teraman memiliki rumah dengan dana terbatas,” imbuhnya. Terlebih, saat ini banyak bank menawarkan bunga promo yang semakin rendah dengan masa fixed lebih lama, bunga pasar juga makin murah, yang memberi kesempatan konsumen menarik nafas usai membayar depe dan biaya-biaya pembelian rumah.

“Kredit pengembang lebih cocok untuk pembelian rumah bertujuan investasi. Prosesnya mudah, tak se-njelimet KPR, tanpa uang muka, cukup tanda jadi, rumahnya bisa indent (masih berupa gambar dengan janji serah terima kemudian) yang keberapapun jugadan tenornya secara umum pendek (maksimal lima tahun),” jelasnya.

Ia menuturkan bahwa membeli rumah dengan tunai bertahap, terlebih di proyek yang reputasi developernya belum diketahui, apalagi dengan masa tunai bertahap yang lama, sangat berisiko.

Pegangan konsumen hanya janji dan komitmen developer plus surat bukti pemesanan rumah dan/atau perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) di bawah tangan.

Jika terjadi wan prestasi seperti serah terima rumah terlambat atau sampai gagal dibangun, posisi konsumen sangat lemah. Beda dengan investor, mereka berani memilih cara bayar tunai bertahap sebab telah punya perhitungan properti yang dibelinya akan memberikan keuntungan (return) yang memuaskan.

Mereka umumnya juga telah mengenal baik reputasi developernya. Kemudahan cara bayar, ekspektasi kenaikan harga rumah, serta harga rumah dengan cara bayar tunai bertahap yang lebih rendah ketimbang dibeli dengan KPR itu, jadi pertimbangan mereka memilih cara bayar.

Semua risiko telah diperhitungkan investor, bahkan bila nantinya terjadi keterlambatan serah terima rumah sekalipun. High returnhigh risk.