Kondisi gerbong kereta disiang hari, masih terlihat penuh. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Sarana transportasi massal Kereta Commuterline Jabodetabek (KCJ) dinilai layanannya semakin memburuk. Hal tersebut sangat dikeluhkan para pengguna jasa KCJ, apalagi selalu sesak penumpang terutama di jam-jam orang pergi dan pulang bekerja di wilayah DKI Jakarta.

Para pengguna jasa KCJ mengaku kepadatan penumpang dirasakan sejak diberlakukan perubahan jadwal mulai 1 April 2017 lalu. Bahkan penumpang harus rela berdesak-desakan dan memaksakan diri masuk ke dalam kereta api agar bisa berangkat sesegera mungkin.

“Sejak diberlakukan perubahan jadwal itu, justru menambah buruk kondisi kapasitas penumpang hingga terjadi overload karena rangkaian kareta biasanya tersedia 12 gerbong saat ini hanya tinggal tersedia 8 gerbong kereta saja. Kemudian setiap berangkat kerja saya harus berjubel dengan penumpang lain dan sering bermandi keringat didalam kereta disebabkan fasilitas AC juga tidak mampu mendinginkan gerbong,” ungkap Nufus salah seorang pengguna jasa KCJ rute Stasiun Tebet – Stasiun Depok, saat ditemui INAPEX.co.id, dikawasan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (17/5).

 

Terlihat padatnya penumpang untuk berebut masuk ke dalam gerbong KCJ. (Foto: hipwee)

 

Hal senada juga banyak komentar yang mengeluhkan buruknya layanan KCJ melalui akun instagram@keretaapikita. “Tolong dong pihak KCJ, gerbong jangan dikurangi terus, jadwal baru makin parah, capedeh,” kata pemilik akun instagram Windawince8.

“Saya pengguna jasa KRL setiap pagi dan sore, mohon kiranya adanya penambahan gerbong yang saat ini hanya 8-12 gerbong. Mohon ditambah lebih banyak, karena setiap jam sibuk selalu berdesak-desakan didalam gerbong,” kata pemilik instagram riina_baibars.

Sementara itu, penumpang terlihat terus memaksa masuk hingga pintu kereta benar-benar tidak bisa ditutup. Selama pintu kereta masih bisa tertutup meskipun secara paksa, penumpang akan terus memaksa masuk. Kereta tidak akan berjalan hingga pintu tertutup sempurna.

Di atas jam 09.00 kereta masih penuh, namun tidak sepadat jam masuk kerja. Sesaknya kereta kadang memicu keributan dan pertengkaran antar penumpang. Bahkan di media sosial dihebohkan dengan rekaman yang menayangkan dua penumpang perempuan yang saling serang karena berebut tempat duduk di gerbong khusus wanita.

Mereka saling memukul dan menjambak rambut. Penumpang lain tak kuasa memisahkan mereka.
Video itu dibagikan berkali-kali melalui media sosial dan menjadi pesan berantai.  “Itu sudah biasa. Apalagi kalau jam sibuk,” kata Veby Ratna Sari, seorang penumpang dari Stasiun Pondok Cina, Depok.

Suasana seperti itu, kata Veby, berulang kalau sudah jam pulang kerja, antara pukul 16.00-19.00 WIB. Veby mengakui, di gerbong khusus perempuan memang jauh lebih padat dan diminati karena jumlahnya terbatas. Setiap rangkaian kereta api hanya menyediakan dua gerbong khusus wanita.

Sedangkan Gerbong lainnya menampung penumpang pria dan wanita. Terlihat sejumlah petugas kereta akan membantu penumpang untuk masuk dengan terus mendorong tubuh mereka hingga pintu kereta bisa ditutup.

Di dalam kereta, penumpang akan saling menjepit karena sesak. Tidak jarang penumpang yang sangat sesak itu miring dan terdorong dengan sendirinya jika kereta sedang berbelok, mulai berjalan, ataupun mulai berhenti saat kereta direm.

Kendati demikian, penumpang sudah tidak perlu berpegangan karena tidak akan jatuh lantaran tubuh-tubuh penumpang saling menopang di dalam kereta.
Kepadatan penumpang baru akan berkurang saat kereta sudah memasuki stasiun transit, seperti Stasiun Jatinegara, Tanah Abang dan Manggarai. Penumpang akan terus berkurang setiap melewati stasiun transit.