Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Hingga akhir kuartal II 2017, pertumbuhan pasar apartemen dinilai harga hunian ini masih stagnan. Padahal, tren pembelian hunian dengan kredit perbankan mulai diminati dengan kenaikan dua kali lipat dari tahun 2013.

Pengamat bisnis properti Indonesia Toerangga Putra mengakui, khususnya untuk di segmen hunian vertikal di Jakarta pada kuartal II-2017 mengalami penyerapan pasar (take up rate) sebesar 84,8%. Angka itu menurun sekitar 1,04% dari kuartal sebelumnya dan sebesar 1,05% dari kuartal yang sama ditahun lalu.

“Penjualan apartemen cukup sulit di kuartal ini. Namun pengembang tidak menurunkan harga,” kata Toerangga Putra di Jakarta, Jum’at (14/7).

Teorangga menambahkan, rata-rata harga apartemen naik tipis kisaran 1% dari kuartal sebelumnya yakni 5% dari kuartal II-2016 menjadi Rp 32,4 juta/m2.

Kendati demikian, masih dikatakan Toerangga, dalam kondisi seperti ini pengembang masih enggan menurunkan harga jual. “Pengembang lebih memilih untuk mengeluarkan stimulus berupa pembiayaan yang menarik atau potongan harga,” tambahnya.

Dari data Toerangga, apartemen di Jakarta saat ini berjumlah 188.168 unit. Adapun selama kuartal II-2017 pasokan apartemen yang baru masuk mencapai 340 unit atau naik sebesar 0,2% dari kuartal sebelumnya. Selain itu, disepanjang 2017-2019 akan ada penambahan 55.887 unit apartemen.

Lebih jauh Toerangga mengatakan apartemen sewa juga mengalami keterpurukan. Tidak ada penambahan apartemen sewa selama kuartal II-2017. Sementara di semester II-2017 akan ada penambahan sejumlah proyek dibeberapa lokasi.

“Untuk apartemen sewa, kami melihat penurunan permintaan karena apartemen sewa ini banyak dihuni eskpatriat, sementara jumlah ekspatriat semakin berkurang,” ujar Toerangga.

Sementara itu, penjualan pasar hunian yang masih bagus berada pada segmen menengah ke bawah. Sejumlah pengembang masih kesulitan dalam memasarkan produk huniannya selama paruh pertama 2017.

Menurut Toerangga, pasar properti belum akan membaik hingga akhir 2017. “Kami sekarang melihatnya 2018 adalah waktu yang ideal untuk perbaikan. Kami melihat persiapan investor dan korporasi untuk ekspansi sudah kelihatan, tapi eksekusi baru akhir tahun ini atau awal tahun depan,” paparnya.

Ia menambahkan, developer sebaiknya lebih cermat dalam menghadapi pasar yang terus berubah-ubah. Saat ini, masyarakat cenderung memilih hunian dalam lokasi yang strategis atau dekat dengan tempat bekerja.

Meskipun harga hunian per unit di pusat kota lebih mahal dengan luasan lebih kecil, faktanya mereka lebih antusias dibandingkan di tempat yang jauh dari kota. “Maka ukuran hunian bisa jadi strategi. Pengembang bisa meluncurkan hunian dengan lebih kecil di pusat kota,” pungkasnya.