Brewin Mesa, perusahaan pengembang real estat berbasis di Singapura. (Foto: TheLana)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Ini merupakan sebuah konsep baru yaitu Apartemen The Lana yang menerapkan sistem dua kunci terpisah dalam satu unit. Inovasi tersebut berupakan konsep yang diusung oleh pengembang properti asal Singapura, Brewin Mesa dan Shenning Investment.

Apartemen dua tower setinggi 38 lantai berlokasi di kawasan Alam Sutera, Serpong, Tangersang Selatan (Banten), semula direncanakan berisi 564 unit.

Proyek apartemen yang dipasarkan sejak akhir 2017 ini, dalam tahap pembangunan oleh kontraktor China State Construction and Engineering Corp Ltd (CSCEC) dengan target bisa selesai hingga tahun 2020.

Brewin Mesa meyakini konsep baru itu bisa menawarkan alternatif untuk target pembeli yang lebih memprioritaskan pada gaya hidup.

“Kami yakin kehadiran konsep baru ini akan memberi penyegaran dan membangun competitiveness industri properti Indonesia saat ini, dan kami bangga menjadi yang pertama mempopulerkannya,” kata Bill Cheng, Presiden Direktur Brewin Mesa, melalui siaran pers, baru-baru ini.

Tren pasar saat ini diakuinya menuntut developer untuk terus berinovasi. Kini The Lana mencoba menghadirkan hunian yang tidak hanya mewah melainkan juga memiliki fleksibilitas, kenyamanan, dan peluang keuntungan investasi yang menarik bagi pemiliknya.

Berada di tower 1 The Lana, unit-unit dual-key ini tersedia dalam dua pilihan tipe: tiga kamar tidur (KT) dikombinasi dengan unit 1KT, dan kombinasi unit 2KT dan 1KT. Luasan total masing-masing tipe sekitar 147 dan 128 meter persegi (m2).

Setiap unit dalam apartemen dual-key mewah ini memiliki fungsi utuh dengan ruang keluarga, pantry dan dapur. Konsep two-in-one ini dipercaya sangat cocok untuk keluarga multi-generasi khususnya di Indonesia.

Sistem dua kunci memungkinkan dua keluarga untuk tinggal berdekatan namun tetap menikmati privasi terpisah. Developer juga memastikan masing-masing unit mempunyai sertifikat yang berbeda.

“Ini juga bisa menjadi sebuah peluang investasi yang baik bagi pemilik, karena pemilik apartemen dual-key juga dapat menggunakan satu unit sebagai tempat tinggal mereka dan menyewakan unit lainnya,” jelas Bill.

Terlepas itu, ditengah terpuruknya nilai tukar rupiah yang terus anjlok, namun ternyata investasi disektor properti tetap optimis.

Hal tersebut terbukti kerja sama antara PT Hutama Anugrah Propertindo dan Creed Group yang mengembangkan dua menara apartemen Serpong Garden.

Creed Group pengembang properti asal Jepang ini mengucurkan investasi senilai Rp 1,6 triliun untuk apartemen dikawasan Tangerang, Banten.

“Investasi totalnya sekitar Rp 1,6 triliun untuk dua menara yang saat ini dalam pembangunan. Ini merupakan joint venture partnership,” kata Direktur Utama PT Hutama Anugrah Propertindo Ferdy Sutrisno, di Jakarta, baru-baru ini.

Dana sebesar tersebut dimanfaatkan tidak hanya untuk membangun dua menara apartemen, Bellerosa dan Cattleya, tetapi juga tiga menara lainnya serta pengadaan berbagai fasilitas pelengkap.

Salah satu fasilitas yang diandalkan yaitu jembatan penyeberangan orang (JPO) sebagai akses ke Stasiun Cisauk yang berada di seberang proyek ini.

JPO dibangun karena konsep yang diusung pengembang adalah transport oriented living (TOL), yaitu memanfaatkan sarana transportasi massal sebagai bagian dari gaya hidup.

Hingga saat ini penjualan Cattleya sudah mencapai 95 persen dari total 1.500 unit sejak dipasarkan awal 2016. Sementara Bellarosa terjual 90 persen dari total 700 unit sejak dipasarkan pada pertengahan 2016.

Pengembang menawarkan dua tipe apartemen masing-masing Studio seharha Rp 200 jutaan, dan dua kamar tidur Rp 400 jutaan.

Lukas Bong selaku konsultan pemasaran Serpong Garden mengatakan, dilihat dari nilai investasi yang cukup besar, hal itu membuktikan bahwa industri properti di Indonesia masih menarik untuk dikembangkan, sama halnya bagi investor asing.

“Pasar properti di Indonesia masih sangat bagus, pertumbuhannya masih tinggi. Melihat sejumlah proyek properti, kami membangun Serpong Garden dan memberi sesuatu yang lain,” ujar Lukas.

Menurutnya, pengembang tidak selalu bisa membangun proyek yang benar-benar sesuai keinginan konsumen. Meski demikian, imbuhnya, angka penjualan proyek properti tidak begitu buruk.