Ketua P3SRS Puri Imperium Melva Nababan. (Foto: dok.inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Untuk menciptakan kondisi kenyamanan penghuni dan pemilik unit, Ketua Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun (P3SRS) Puri Imperium terus mendorong penyelesaian dualisme pengurus.

“Tujuannya cuma bagaimana membuat nyaman, dan aman itu rumah kami bersama ya. Itu juga pada waktu pemilihan saya sampaikan visi dan misi dari pada pengurus yang baru,” tegas Ketua P3SRS Puri Imperium Melva Nababan saat ditemui wartawan di Jakarta, belum lama ini.

Selain itu masih banyak yang harus dibereskan termasuk persiapan perpanjangan Hak Guna Bangunan (HGB). “Apa yang harus dibereskan yaitu mengenai Sertifikat Layak Fungsi (SLF), kemudian adanya Hak Guna Bangunan (HGB) yang akan habis sehingga itu yang harus dipersiapkan 2021 harus sudah mengajukan perpanjangan,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan Melva, perawatan gedung apartemen yang terlihat sangat kumuh juga menjadi prioritas demi kepentingan penghuni.

“Nah, maintenance daripada gedung itu sudah sangat kumuh, lift sering rusak, kemudian Chiller (air conditioner) itu saya sudah teriak-teriak sejak lima tahun yang lalu,” tegasnya.

Melva mengaku, sebagai pemilik perkantoran, merasa tidak dihiraukan oleh para pengerus periode sebelumnya. “Terus terang saja saya sendiri merasa dirugikan ya. Karena banyak sekali yang akhirnya tenant-tenant yang mau menyewa perkantoran itu keluar. Karena satu tidak bisa mendapatkan domisili dan itu mereka mengatakan seenaknya saja dengan virtual saja begitu,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan Melva, perseteruan dualisme P3SRS Puri Imperium dipicu dari kepengurusan yang dikelola oleh sejumlah orang-orang lama.

“Kalau saya sih melihatnya bahwa ini mereka sudah menggurita ya. Karena ketua sebelum itu pertama jadi pengawas tiga tahun. Kemudian jadi bendahara tiga kali berarti sudah sembilan tahun. Kemudian menjadi ketua tiga tahun, jadi 12 tahun. Tanpa digaji, tetapi merasa apa yang dilakukan itu semua saya tidak ada melihat adanya seperti maintenance tidak benar dengan sebagainya,” ungkapnya.

Menurutnya, terkait maintenance telah berupaya bicara untuk mencari solusinya. Namun, masih dikatakan Melva, tak pernah ditanggapi oleh pengurus sebelumnya.

“Saya mengajukan upaya membicarakan itu tetapi tidak ditanggapi. Karena AC itu seharusnya dari sentral, itu bener-bener tidak berfungsi secara normal, sudah seperti sauna sehingga saya harus memasang AC sendiri dan banyak hal yang merugikan sekali,” ujarnya.

Melva juga menyayangkan adanya gondola yang rusak tak kunjung diperbaiki. “Kalau unit hunian yang paling tidak maintenance itu gondola sudah rusak satu tahun. Jadi kaca itu sudah kotor sekali, ya itu kan hunian ya. Jadi kaca itu kan harus dibersihkan setiap bulan atau setiap dua bulan sekali lah minimal itu sudah kotor sekali,” katanya.

Tak hanya itu, fasilitas umum lain seperti lapangan tenis juga tak terawat. “Coba sekarang dilihat ya itu lapangan tenis bukan hanya cuma tidak diurus tapi sudah bolong-bolong. Padahal itu seharusnya ada maintenance dan lift yang sering rusak dan bahkan ada beberapa lift kantor kalau ada disable itu sudah tidak berfungsi beberapa tahun,” ujar Melva.

Selain itu, Melva berharap ada tim audit yang dapat memeriksa keuangan pada kepengurusan periode sebelumnya.

“Dari sisi keuangan dibuat semacam spesial audit itu pasti akan kelihatan banyak sekali ketidak wajaran. Ya itu tadi contoh gondola yang sudah setahun nggak berfungsi, itu uang service charge kita itu kemana? Terus ada yang namanya sinking fund itu untuk hal-hal yang besar, contoh untuk pengecatan misalnya, kemarin itu pengecatan gedung dibebankan kita semua. Tapi sekarang sinking fund itu nggak jelas dipakai untuk apa,” pungkasnya.