Direktur Consumer BTN, Handayani. (Foto: Mas Kendi)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Kendati tak menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiyaan Perumahan (FLPP) lagi, namun PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) tetap mendukung program pemerintah  mewujudkan rumah murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

“Itu komitmen Bank BTN untuk menyalurkan KPR subsidi yang menjadi program nawacita janji pemerintah,” kata Managing Director Consumer Banking BTN, Handayani, di Jakarta, belum lama ini.

Lebih lanjut, dikatakan Handayani, sekaligus persiapan event terbesar di Asia Tenggara yait pameran Indonesia Properti Expo 2017,  ada dua jenis KPR subsidi yang diberikan pemerintah kepada masyarakat, yaitu FLPP dan subsidi selisih bunga (SSB).

Ia menambahkan, BTN lebih memilih menyalurkan KPR SSB karena ingin membantu pemerintah dalam pendanaan pembangunan infrastruktur.

“Kamj melihat pendanaan Bank BTN sudah cukup kuat untuk bisa mendukung itu. Tahun depan, ketika alokasi anggaran pemerintah cukup, kami juga salurkan kembali dengna dua model pembiayaan FLPP dan SSB,” kata Handayani.

Dia berharap, pengembang tak perlu khawatir meski BTN untuk saat ini sedang tidak menyalurkan KPR FLPP. “Karena BTN akan selalu jadi mitra utama pemerintah untuk salurkan pembiayaan KPR subsidi ini,” katanya.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebelumnya menurunkan alokasi anggaran untuk Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tahun 2017.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pembiayaan Perumahan Kementerian Perumahan Lana Winayanti mengatakan, anggaran yang diturunkan yaitu dari Rp 9,7 triliun menjadi Rp 3,1 triliun.

Itu artinya, Kementerian PUPR juga merevisi target penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) FLPP dari 120.000 unit menjadi 40.000 unit.

Menurut Lana, koreksi anggaran dilakukan lantaran Bank Tabungan Negara (BTN) tidak ingin ikut andil dalam penyaluran KPR FLPP tahun ini. “Karena kan BTN kan enggak akan menyalurkan FLPP, jadi buat apa dianggarkan gede-gede di FLPP,” tutur Lana Winayanti.

Perlu diketahui, hunian vertikal, diprediksi bakal menjadi primadona bagi pengunjung di pameran Indonesia Properti Expo 2017. Apalagi, Indonesia merupakan negara keempat populasi terbanyak di dunia dengan total 52 % penduduknya berada di perkotaan (2014) dan diperkirakan terus meningkat lonjakannya hingga tahun 2030 mendatang.

Berdasarkan data McKinsey Global Institute, penduduk Indonesia yang berada di perkotaan pada 2030 akan mencapai angka 71 persen. Perkotaan dianggap bisa menjadi lokasi yang cocok untuk menambah kemakmuran penduduknya secara menyeluruh.

Kemudian, hunian vertikal atau apartemen yaitu salah satu dari beragam jenis properti yang dinilai paling menguntungkan pada tahun 2017 ini. Permintaan sewa ataupun pembeli apartemen, terbukti semakin tinggi peminatnya.

Dari seluruh subsektor properti, apartemen merupakan salah satu yang bisa dipercaya bakal melejit pada pameran IPEX di tahun ini. Keyakinan itu ditangkap sejumlah pihak seiring dengan kian menyempitnya ruang kosong di daerah perkotaan, serta momentum kebangkitan properti 2017.