Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Terkait rencana kenaikan harga baru rumah subsidi Tahun 2019, hingga saat ini masih menunggu restu dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu RI). Sebelumnya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sudah mengajukan harga rumah subsidi 2019 tersebut kepada Kemenkeu.

Harga rumah ini berkaitan dengan Kemenkeu karena berkait dengan pajak. Pajak yang dimaksud yaitu Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

“Tentang harga 2019, disampaikan itu bolanya Kementerian Keuangan sebetulnya yang ditunggu ketetapan pajak, bebas pajak. Tentang usulan harga sudah dikeluarkan, yang bebas pajak sampai seberapa. Tidak mungkin nanti kita mengeluarkan sepihak tapi kemudian pajaknya tidak mengikuti,” ujar Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Kementerian PUPR Eko Heripoerwanto di Kementerian PUPR Jakarta, belum lama ini.

Lebih lanjut Eko menjelaskan, kendati belum ada harga baru tidak masalah bagi pengembang. Pasalnya, harga rumah yang berlaku sekarang ini merupakan harga tahun 2018 sudah harga maksimal.

“Harga yang dikeluarkan sejak dulu sampai sekarang adalah harga maksimum, jadi kalau pengembangan memproduksi rumah dengan harga 2017-2018, nggak ada masalah,” jelasnya.

Eko menambahkan, harga rumah subsidi 2019 ini paling lambat keluar April. Dirinya tak ingin berandai-andai jika belum ada keputusan harga sampai dengan April nanti.

“Tentu begini, intinya sudah ada surat yang dikeluarkan bahwa harga yang berlaku adalah harga maksimum 2018 kira-kira seperti itu. Kita tidak berandai andai kalau itu bisa terlaksana atau tidak,” pungkasnya.

Terlepas itu, DPP Real Estat Indonesia (REI) menilai prospek bisnis properti diyakini lebih cerah, dibandingkan tahun sebelumnya.

Seperti diketahui, bisnis properti mengalami kemunduran sejak 2014 sampai 2017. Saat itu, penjualan tergolong tajam hingga mencapai 30%.

Apalagi, di awal 2018, para pengembang menata ulang strategi pengembangan yang harus dilakukan.

“Nah di akhir 2018 kelihatannya ada peningkatan investasi hampir 16% di sana. Itu berarti 2019 ini beberapa pengembang mencoba untuk melangkah ke arah yang positif. Kita tentu dengan kerja keras kita harus optimistis di 2019 ini bisa mencapai pertumbuhan yang positif,” ujar Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata.

Dari sisi target, masih dikatakan pemilik panggilan Eman ini, bahwa disepanjang 2018, terbangun hampir 180 ribu unit rumah non-MBR. Tahun ini, targetnya menjadi 200 ribu.

“Karena investasi di properti rumah non-MBR itu bukan hanya rumah. Jadi ada commercial office, pariwisata, ada industri, dan lain-lain, Mudah-mudahan di luar perumahan pun lebih baik,” katanya.