Untuk Mudik Lebaran 2017, Pemerintah Fokus Mengembangkan Jalan Tol
Pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo (Foto: beritasemarang)

SOLO, INAPEX.co.id – Kemudahan akses transportasi massal melalui kemudahan infrastruktur, dinilai mampu mendorong pembangunan rumah tapak.

Potensi tersebut sangat mendominasi penjualan rumah di Kota Solo, Jawa Tengah. “Ketersediaan lahan di wilayah Soloraya masih sangat mencukupi untuk pembangunan rumah tapak,” ujar Ketua REI Jawa Tengah MR Prijanto di Solo, belum lama ini.

Menurutnya, penjualan rumah di tahun lalu khususnya Jawa Tengah mencapai sekitar 14.500 unit.

Angka ini melejit dua kali lipat lebih tinggi dari tahun sebelumnya sekitar delapan ribu unit untuk seluruh tipe rumah.

“Infrastruktur seperti jalan tol juga memudahkan akses Kota Solo dengan beberapa daerah lain turut memberikan kontribusi pada tingginya permintaan rumah di wilayah tersebut,” jelas Prijanto.

Selain itu, kenaikan didorong seiring kemudahan perizinan bagi pengembang. Termasuk banyaknya perbankan yang menyediakan program kredit pemilikan rumah (KPR).

“Khusus di Jawa Tengah, perbankan yang menyediakan program KPR di antaranya BNI, Bank Mandiri, Bank BTN dan Bank Jateng. Kemudahan ini diharapkan bisa mendongkrak penjualan yang lebih baik di tahun ini,” katanya.

Secara terpisah, realisasi proyek pembangunan infrastruktur khususnya disektor transportasi bisa mendongkrak harga jual properti.

“Apabila seluruh infrastruktur transportasi rampung dan beroperasi, hal itu dapat meningkatkan prospek industri properti. Salah satu dampak infrastruktur adalah mendorong penjualan dan harga jual properti,” ujar Arvin Iskandar, di Jakarta, belum lama ini.

Arvin Iskandar sekaligus sebagai komisaris PT Gapura Inti Sejahtera (GIS), yakni pengembang Bailey’s City, Tangerang Selatan, menjelaskan, terwujudnya pembangunan infrastruktur transportasi bisa mendongkrak harga jual properti.

Sejak diperkenalkan ke pasar pada 2016, harga apartemen di Bailey’s City telah melambung hingga 40%.

“Harga apartemen kami sudah naik lebih dari 40%. Saat ini, kami menjual di harga berkisar Rp 16- 17 juta per meter persegi,” ujar Arvin.

Menurut Arvin, proyek-proyek properti di dekat infrastruktur transportasi, baik itu di Jabodetabek maupun daerah lainnya, akan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Kondisi tersebut, menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli unit properti. “Harga jual produk kami mengalami peningkatan secara tidak langsung karena adanya efek pembangunan infrastruktur yang masif di Jabodetabek,” ujarnya.

Ditambahkan Arvin, hal ini tetap memberikan optimisme manajemen Waskita Realty terhadap outlook penjualan properti pada 2019. Di kawasan Jabodetabek, Waskita Realty menggarap proyek dengan nilai sekitar Rp 7,6 triliun.

Menurutnya, penjualan proyek-proyek hunian di Jabodetabek miliknya masih cukup menjanjikan, terutama di daerah yang cukup strategis seperti proyek apartemen di Pejaten, Jakarta Selatan, yakni Solterra Place.

“Penjualan apartemen tersebut cukup positif dengan unit yang sudah terjual per akhir September 2018 mencapai 50%,” tuturnya.

Pengembang yang juga ketiban rezeki atas hadirnya proyek infrastruktur transportasi adalah Megapolitan.

Ronald mengatakan, proyek Megapolitan di kawasan Cinere, yaitu Cinere Parkview dan Sky Tower, sangat terbantu dengan beroperasinya Tol Depok-Antasari. “Penjualan kami di Cinere, yaitu Cloud Tower sudah mencapai 75%. Lalu, Cinere Parkview phase 1-2 sold out,” katanya.

Proyek lainnya, tambah dia, yaitu di Galleria Kiosk Mall terjual 85% dan Vivo Residence – phase 1- sold out. “Proyek di Bogor secara total terjual sekitar 30%, sedangkan di Cinere, Depok, terjual 40%,” tutur Ronald.