Investor tertarik kembangkan bisnis properti. (Foto: dok.inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Untuk pengembangan kawasan terpadu di Sulawesi Utara (Sulut) dibutuhkan dana senilai Rp.4,8 triliun.

Perhitungan biaya itu diprediksi PT Rizki Kapital Mandiri Indonesia (RKMI) untuk proyek pembangunan kawasan terpadu diatas lahan 541 hektar.

CEO RKMI Group, Bernat Hehega, rencana pengembangan kawasan terpadu di Wori, Sulut tersebut meliputi pembangunan perhotelan water theme park, jungle land, fantasy beach, bungalow, water front villa, condotel, apartemen, perumahan, dan zona komersial terintegrasi.

“Rencana pembangunan mega proyek The Manado Paradise ini akan dimulai pada awal 2019, setelah menerbitkan surat utang jangka pendek yang akan ditawarkan secara terbatas,” ujar Bernat di Jakarta, belum lama ini.

Bernet mengatakan, perseroan menunjuk Ascort Asia sebagai konsultan independen dalam penerbitan dan pendistribusian SBI-JP tersebut.

“Kebutuhan Rizki Kapital Mandiri sebesar Rp4,8 triliun terbagi menjadi dua tahap. Tahap pertama akan menerbitkan SBI-JP (Surat Berharga Investasi Jangka Pendek) senilai Rp1 triliun,” kata Group CEO Ascort Asia, Anthony Soewandy.

Ia menjelaskan, nantinya dana senilai Rp1 triliun tersebut akan dimanfaatkan secara bertahap dalam kurun tiga tahun. “SBI-JP bisa dilakukan melalui mekanisme private placement dan digunakan secara bergulir untuk memenuhi kebutuhan anggaran Rp4,8 triliun,” kata Anthony.

“Kami berharap kerjasama ini akan mendukung pengembangan kawasan The Manado Paradise yang akan menjadi ikon pariwisata di Sulawesi Utara,” pungkas Bernet.

Secara terpisah, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Dengan demikian ada banyak kampung nelayan. Masalahnya, kebanyakan kampun nelayan tersebut berada dalam kondisi kumuh.

“Presiden Jokowi punya ide memperbaiki Kampung Nelayan,” kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono ketika mengecek salah satu kampung di Kelurahan Tegalsari-Tegal Barat, Kota Tegal, Jawa Tengah.

Basuki mengatakan, pemerintah tadinya berencana memperbaiki 10 kampung. Belakangan, mereka memutuskan prioritas dulu pada tiga kampung saja.

Satu di Bengkulu, lalu ada Kampung Beting di Pontianak, Kalimantan Barat, yang kerap dikenal sebagai kampung narkoba, serta satu di Tegal.

“Dari tiga yang ada, di sini yang terbaik. Estetikanya bagus. Kawasan nelayan nanti jadi rapi,” sebut Basuki.

Walikota Tegal, H.M. Nursholeh menyebut kalau dana yang dianggarkan sebesar Rp72,8 miliar. Proyek yang berjalan sejak 2016 tersebut memperbaiki lahan kampung seluas 27 hektare. Saat ini sudah 80% terbangun. Ditargetkan bisa selesai pada akhir tahun ini.

“Insya Allah bisa meningkatkan ekonomi,” sebut Nursholeh. Pasalnya, nanti di sini akan dibangun sejumlah kafe. Dengan demikian bisa menjadi salah satu destinasi kuliner baru. Selain itu juga tentu jadi tempat wisata.

Dalam rencana kerja, kampung ini nantinya akan dilengkapi dengan amphitheater, lapangan voli pantai, plaza sepatu roda, juga sejumlah rumah susun (rusun).

“Harapannya kampung di Tegal ini bisa jadi contoh. Nelayan tidak identik dengan kemiskinan,” pungkas Basuki.