ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Sejumlah kebijakan pemerintah, dinilai menjadi pemicu kenaikan saham disektor properti dan kontruksi sebesar 6,99%.

Analis Profindo Sekuritas Yuliana menyebutkan, kebijakan pemerintah yang dirilis beberapa waktu lalu menjadi salah satu sentimen positif bagi saham-saham properti.

Diantaranya, seperti kebijakan pelonggaran uang muka atau down payment (DP) kredit pemilikan rumah (KPR) atau dikenal dengan kebijakan loan to value (LTV), serta tarif pajak.

“Apalagi properti sudah lama stagnan dan harga sahamnya sudah banyak turun, jadi kenaikan ini juga karena rebound teknikal,” ujar Yuliana, di Jakarta, belum lama ini.

Sementara itu, Yuliana menambahkan, arus kas yang biasanya membaik di bulan Desember menjadi perhatian investor.

Oleh sebab itu, investor mulai melakukan akumulasi pada saham-saham kontruksi. “Selain itu proyek kontruksi sudah ada beberapa yang berjalan cukup lama, dan pengerjaannya juga sudah akan selesai. Jadi otomatis ini juga dapat membuat arus kas positif,” ujarnya.

Lebih lanjut Yuliana merekomendasikan, untuk membeli saham-saham WSKT, WSBP, CTRA, BSDE, SMRA di bidang properti dan konstruksi.

Tahun depan, dia melihat, kemungkinan kontrak yang diperoleh perusahaan konstruksi akan kurang baik lantaran menunggu hasil pemilu. Tapi, menurut dia, kenaikan saham konstruksi punya potensi berlangsung lama.

Sementara itu, ada 34% wanita sangat gemar investasi di sektor properti. Ternyata instrumen investasi properti dinilai sangat menjanjikan bagi kaum hawa.

Alasannya, karena dibanding jenis investasi lain seperti saham maupun deposito, sektor properti sangat menguntungkan.

Presiden Direktur PT. Adhouse Clarion Events Toerangga Putra. (Foto: dok.inapex)

Hasil survei pengunjung di pameran Indonesia Properti Expo (IPEX) periode September 2018 menyebutkan angka itu tak sebesar respon bagi kaum pria 66%, karena properti yang paling banyak dilirik investor yaitu jenis hunian apartemen 17%, jenis ruko 2%, dan kondotel 2%.

Kemudian selebihnya, 79% merupakan konsumen pencari rumah untuk dihuni sendiri. “Antusias pengunjung yang cari properti investasi sangat variatif, namun pencari hunian seperti rumah tapak tetap jauh lebih unggul disetiap penyelenggaraan pameran IPEX,” ujar Presiden Direktur PT. Adhouse Clarion Events Toerangga Putra, kepada INAPEX.co.id, di Jakarta, belum lama ini.

Kemudian, masih dikatakan Toerangga Putra, untuk menciptakan sekaligus meningkatkan peluang pasar hunian, seperti rumah tapak, apartemen, kondotel, villa, dan resort dari tipe menengah sampai mewah Adhouse Clarion Events tetap konsisten menyelenggarakan pameran properti secara reguler.

Toerangga Putra menambahkan, sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, yaitu permintaan rumah tidak akan pernah berhenti.

Setiap tahunnya, Indonesia membutuhkan tidak kurang dari 800 ribu unit rumah baru. “Tapi, dari angka itu, hanya setengahnya yang dapat dipenuhi oleh masyarakat, baik melalui pengembang perumahan maupun swadaya masyarakat sendiri,” papar Founder INAPEX.co.id tersebut.

Lebih lanjut Toerangga menjelaskan, kebutuhan masyarakat terhadap properti dinilainya sangat besar, baik untuk tempat tinggal maupun investasi.

Sebab itu, masih dikatakan Toerangga, perbankan sudah pasti akan merespon jika pasarnya siap untuk difasilitasi pembiayaannya melalui skema kredit.

Bagi pengembang perumahan saat ini memiliki banyak proyek dan real estate yang tersebar di wilayah Jabodetabek dan dikembangkan oleh sejumlah anak perusahaan.

“Salah satunya yang dipasarkan yaitu unit rumah dengan konsep minimalis dan lokasi properti yang paling dicari yaitu Cikeas 3%, Bojong Gede 3%, Cilebut 2%, Serpong 6%, Bekasi 5%, Tangerang 10%, Depok 8%, Bogor 4%, Jakarta Barat 10%, Jakarta Pusat 10%, Jakarta Selatan 13%, Jakarta Timur 13%, Jakarta Utara 11%,” ujar Toerangga.