Kawasan Jakarta Masih Jadi Tempat Hunian Primadona
Perumahan (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Harga properti di wilayah Jakarta memang lebih tinggi daripada kawasan sekitarnya. Oleh sebab itu, pasar properti bergeser ke wilayah sekitar Jakarta, seperti Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi).

Meski begitu, properti di Ibukota tetap menarik untuk alternatif investasi sebab pertumbuhan harganya masih menjanjikan.

“Jakarta masih menjadi barometer khususnya sektor properti. Harga rumah di wilayah Jakarta yang kurang populer tren peningkatan harganya lebih pasti dibandingkan properti di kota kota-kota baru seperti di Serpong, Bekasi, dan wilayah lainnya,” papar Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda, kepada pers di Jakarta, Rabu (8/3).

Ali mengatakan bahwa setiap hari terdapat 940 ribu perjalanan menuju Jakarta. Sebagian besar datang dari wilayah suburban, terbanyak dari koridor jalan tol Jagorawi dan Cikampek sekitar 64 persen.

Mereka jadi pasar potensial hunian di Jakarta terutama apartemen menengah yang dalam kondisi pasar tertekan tetap tumbuh bagus.

Ali mengaku di sejumlah kawasan yang harganya sudah tinggi menghadapi koreksi harga. Misalnya Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada 2012-2013 nilai propertinya melambung tinggi.

Kala itu banyak konsumen membeli karena emosional. Kondisi seperti itu tak terjadi lagi dan hal tersebut positif sebab nilainya berdasarkan kondisi pasar.

“Banyak wilayah di luar Jakarta harga propertinya lebih tinggi dari Jakarta. Di Serpong harganya lebih tinggi dari Daan Mogot, Jakarta Barat, dan di Bekasi lebih tinggi dari Cakung (Jakarta Timur). Tapi harga rendah itu (potensi) kenaikannya justru lebih besar dibandingkan properti yang harganya sudah terlanjur tinggi,” paparnya.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, pengembang Balikpapan maupun nasional yang beroperasi di kota terbesar kedua Kalimantan Timur ini berlomba membangun rumah murah dan subsidi.

Sebelum pengembangan rumah murah dan rumah subsidi naik daun, peminat rumah menengah dengan harga Rp.400 – Rp.500 juta mendominasi pasar pada 2013.

Ada 19 pengembang yang mengajukan rencana membangun sampai 5.000 kapling pada tahun tersebut.

Setahun selanjutnya, ada 34 pengembang yang mengajukan rencana membangun 10.000 rumah.

“Rumah subsidi saat itu menggunakan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), tidak ada peminatnya di Balikpapan,” imbuh Kepala Seksi Perencanaan Pengembangan Perumahan Edi Sahputra.

Akan tetapi, krisis dan anjloknya bisnis tambang-minyak, terus dirasakan pada 2015 sampai kini.

Pembangunan rumah kelas menengah pun terhenti. Sekitar 38 pengembang mengajukan rencana membangun perumahan murah dan subsidi sebanyak 14.000 unit

“Pengusaha untuk rumah kelas menengah bahkan turun ke rumah murah,” jelas Edi.

Situasi belum berubah sampai dua bulan pertama tahun 2017. Sekarang ini baru 4 pengembang yang mengajukan rencana membangun 1.500 unit rumah murah bersubsidi.