JAKARTA, INAPEX.co.id, – Pengembangan hunian menengah di sekitar Jakarta Selatan bergeser ke kawasan Serua, Depok. Kawasan tersebut dekat dengan Ciputat, Tangerang Selatan, yang lahannya semakin sedikit dan harga rumahnya yang terlampau tinggi.

Di Ciputat yang berada dekat Lebak Bulus, Jakarta Selatan, harga rumahnya telah naik rata-rata di atas Rp.700 juta. Oleh sebab itu, pembangunan apartemen di Ciputat saat ini sangat semarak. Paling tidak, terdapat lima proyek apartemen tengah ditawarkan mulai senilai Rp.200 juta.

Di Serua harga rumahnya lebih murah. Di New Estesia Residence yang berada di Jl Raya Serua harganya mulai Rp.471 jutaan tipe 36/60. Perumahan yang baru diluncurkan tersebut memasarkan 117 rumah dan delapan unit ruko. Ada pula tipe 45/82 Rp.630 juta. Menurut Arif, staf pemasarannya, uang mukanya sangat ringan 10 persen dicicil enam kali.

“Di kawasan Serua spesifikasi yang kita tawarkan paling bagus di kelasnya. Lantainya pakai granite tile 60×60, kusen kayu kamper, rangka atap baja ringan, dan sanitari Toto,” tuturnya kepada pers di Depok, belum lama ini.

Kawasan Serua sangat mudah diakses dari Lebak Bulus yang akan jadi depo dan stasiun MRT. Aksesnya dapat melewati Jl Raya Pondok Cabe – Jl RE Martadinata – Jl Raya Serua, atau melewati Jl Ir Juanda Ciputat – Jl RE Martadinata – Jl Raya Serua. Dilewati kendaraan umum selama 24 jam jurusan Lebak Bulus – Parung.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, para pengusaha properti terutama pengembang rumah menengah bawah mengalami persoalan rumit. Mereka terkendala mahalnya harga tanah untuk membangun rumah murah atau hunian bersubsidi yang harganya dipatok pemerintah.

Mahalnya harga lahan disebabkan oleh harga pasarnya yang memang lokasinya strategis atau dekat fasilitas; kedua, karena kebijakan pemerintah. Di Pekanbaru, Riau, harga tanahnya meningkat karena regulasi.

“Pemerintah daerah menaikkan NJOP (Nilai Jual Obyek Pajak) dari Rp.50 ribu/m2 menjadi Rp.350 ribu/m2, itu naik 700 persen, bahkan ada yang kenaikannya sampai seribu persen,” tutur utusan DPD REI Riau, Frans pada Munas Realestat Indonesia (REI) ke-15 di Jakarta, baru-baru ini.

Frans menuturkan kebijakan ini mematikan dunia usaha khususnya pengembang rumah menengah bawah. Jika harga tanahnya melonjak seperti ini tak mungkin lagi dibangun rumah bersubsidi.

Padahal pemerintah pusat mendukung pengembang membangun rumah murah untuk kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) lewat program pembangunan sejuta rumah.

Sekretaris Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Endang Try Setyasih, yang merupakan narasumber di Munas REI mengaku masih banyak Peraturan Daerah (Perda) bermasalah dan tak probisnis.  Hal tersebut dikarenakan keinginan Pemda untuk menaikkan pendapatan asli daerah (PAD).

(he)