ilustrasi. (Foto: dok.inapex)
ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Jenis Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Mikro ini, ternyata paling diserbu oleh para calon konsumen properti khususnya bagi pekerja informal. PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk sejak meluncurkan program KPR ini sebagai tahap awal, kawasan yang disasar BTN adalah Semarang, Jawa Tengah.

Diharapkan program ini dapat menuai kesuksesan di daerah tersebut. Sebab, jika program tahap awal ini dapat meraih keberhasilan, daerah-daerah lain di Indonesia ke depan dapat merasakan fasilitas KPR Mikro juga. “Program ini kan baru dicoba dulu di daerah Jawa. Mudah-mudahan bisa terlaksana dengan baik sehingga seluruh Indonesia bisa terlayani,” ujar Ketua Umum DPP Apersi Junaidi Abdilah.

Dia meyakini, KPR Mikro dapat membantu masyarakat yang berpenghasilan tidak tetap dan sulit untuk memiliki rumah. “Kalau pandangan saya KPR Mikro itu adalah solusi untuk masyarakat yang memang berpenghasilan tapi tidak punya cukup kemampuan untuk memiliki rumah,” jelasnya.

Sehingga, KPR Mikro ini, dianggap sebagai solusi yang tetap untuk memudahkan masyarakat pekerja informal untuk memiliki rumah. “Mungkin ini solusi terbaik untuk teman-teman yang tergabung dalam asosiasi para pedagang, pedagang bakso, nelayan, usaha kecil lainnya,” lanjut Junaidi.

Akan tetapi, ia berharap KPR Mikro ini dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat pekerja informal yang tersebar di sejumlah daerah di Indonesia. “Mudah-mudahan KPR Mikro ini betul-betul bisa menyerap masyarakat yang lain juga karena memang sementara ini kan hanya untuk, contoh di daerah Jawa,” tambahnya.

Sementara itu, untuk bisa memiliki rumah bagi pasangan yang baru menikah menjadi kebutuhan pokok. Rumah yang dijual pada masa sekarang sangat beragam dan berbeda mulai dari besar, hingga lokasinya.

Jika ingin membeli rumah, harus merencanakannya dengan matang. Apalagi harus memutuskan apakah ingin membeli rumah dengan uang tunai hasil tabungan sendiri atau dengan menggunakan pinjaman. Pinjaman pun perlu diketahui sumbernya, baik melalui teman atau keluarga, atau melalui pihak bank melalui sistem KPR.

 

Sehingga, KPR Mikro ini, dianggap sebagai solusi yang tetap untuk memudahkan masyarakat pekerja informal untuk memiliki rumah. “Mungkin ini solusi terbaik untuk teman-teman yang tergabung dalam asosiasi para pedagang, pedagang bakso, nelayan, usaha kecil lainnya,” lanjut Junaidi.

 

Selain itu, banyak persoalan lain yang harus diperhatikan sebelum membeli rumah pertama diantaranya seperti tentang kondisi keuangan. Sebaiknya, harus dipersiapkan dengan segala biaya-biaya yang dibutuhkan untuk kepemilikan rumah tersebut, beberapa di antaranya adalah:

• Tanda Jadi
Biaya tanda jadi adalah biaya yang ditentukan oleh penjual atau pengembang properti. Biasanya pengembang akan memberikan formulir pemesanan unit properti tersebut disertai dengan jadwal pembayaran tanda jadi, dan uang muka dan formulir tersebut merupakan surat perjanjian yang harus ditandatangani dengan lengkap dan jelas.

• DP (Down Payment)
Untuk pengajuan KPR, biasanya bank akan meminta uang muka sebesar 50 persen dari harga properti. Tentunya jumlah ini beragam untuk masing-masing bank. Uang muka ini kemudian akan dibayarkan pada pengembang atau penjual rumah.

• Angsuran
Setelah pengajuan KPR disetujui, Anda harus membayar sejumlah angsuran setiap bulan. Angsuran ini terdiri dari pinjaman pokok dan bunga pinjaman di mana angsuran tersebut harus dibayar selama jangka waktu kredit.

Tanggal pembayaran cicilan juga ditentukan pada awal perjanjian, dan Anda diharuskan untuk membayar angsuran sebelum jatuh tempo. Setelah mengetahui kisaran biaya yang dibutuhkan, Anda harus memiliki rencana keuangan yang matang sejak dini. Angsuran KPR dapat mengambil kurang lebih sepertiga dari penghasilan Anda. Jika tidak ingin berutang sana sini, Anda harus mulai mencari cara baik dengan menabung atau berinvestasi.