Ilustrasi rumah tapak. (Foto: dok.inapex)

 

SEMARANG, INAPEX.co.id – Banyak pengembang properti hunian di Propinsi  Jawa Tengah yang mengaku pesimis dengan lemahnya minat beli masyarakat terhadap properti, khususnya untuk segmen menegah keatas. Kondisi yang belum maksimal disektor properti di Propinsi Jawa Tengah itu dikeluhkan Marketing Manager Graha Candi Golf Semarang, Wibowo Tedjosukmono, di Semarang.

“Bisa anda lihat minat beli masyarakat hingga penghujung tahun 2017 ini, sangat kurang menggembirakan. Bahkan pameran Property Semarang Expo yang di gelar terakhir kemarin, anjlok dari target penjualan yang diharapkan,” kata Wibowo Tedjosukmono, belum lama ini.

Menurut Wibowo dari hasil pameran property Semarang Expo yang di langsungkan bulan kemarin, hanya mampu membukukkan transaksi 29 unit properti dari target yang kita incar sebesar 70 unit hunian rumah.

Wibowo tedjosukmono mengakui, dari pameran yang ketujuh lakinya ini memang mentargetkan pangsa pasar menengah keatas, dengan menghadirkan jenis properti menengah dan mewah, yang memiliki harga jual dalam kisaran harga Rp 500 juta hingga 1 miliar.

“Dibanding gelaran kami selama dua kali sebelumnya, memang cukup menyedihkan minatbeli masyarakat terhadap dunia properti pada penghujung tahun 2017. Pada pameran ke lima, kami berhasil meraih penjualan sebanyak 64 unit, sedangkan di waktu pameran ke enam memang ada penurunan hasil transaksi. Hanya sejumlah 56 unit saat berlangsung di Mal Citraland,”jelasnya.

Memang pada pameran properti ke tujuh kemarin, lanjut Wibowo, selain menyasar kelas menengah ke atas, dirinya yang juga menjadi salah satu anngota juga ada perumahan untuk menengah ke bawah.

“Meski demikian, saya belum bisa memastikan apa penyebab rendahnya daya beli masyarakat menengah ke atas terhadap properti. Karena semua indikator pendukung juga tidak mengalami perubahan. Artinya, daya beli masyarakat menengah ke atas memang sedang tidak stabil, sementara untuk kalangan menengah ke bawah dengan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tidak terpengaruh,” aku Wibowo Tedjosukmono.

Bahkan, katanya, suku bunga sekarang ini cenderung turun dan stabil di angka 6,75 persen, sementara biasanya suku bunga berada di kisaran 8,5 persen dengan “fixed rate” atau rentang suku bunga tetap hingga tiga tahun.

“Semuanya merata rendah penjualannya. Bahkan, ada yang tidak terjual. Dari 29 unit yang terjual, sekitar 11-12 persennya apartemen. Ya, ini jadi evaluasi kami untuk gelaran selanjutnya,” pungkasnya.