Jangan Mudah Percaya Harga Rumah Murah di Jakarta
Rumah Murah di Jakarta (Foto: rumahdijual)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Jangan mudah percaya jika ada yang mengatakan rumah tapak di Jakarta senilai Rp.350 juta yang dijual warga lewat portal jual beli properti (rumah seken), lebih baik yang bersangkutan juga melakukan survei ke Bekasi.

Menurut JLL Indonesia, harga rumah tapak terbaru kelas bawah di wilayah penyangga Jakarta termurah telah mencapai angka Rp.300 juta dengan kondisi paling biasa saja.

Sedangkan rumah dengan kondisi lebih baik, walaupun sama-sama kelas bawah, ditawarkan seharga Rp.600 juta.

Bagaimana dengan apartemen kelas bawah?

Angka tertinggi dipasarkan untuk hunian vertikal di wilayah ini, sekitar Rp.800 juta sampai Rp.1,5 miliar per unit.

Menurut riset JLL, kelas menengah bawah merupakan segmen pasar terbesar pada properti jenis rumah dan apartemen.

Pantas saja jika konsultan properti asing ini melaporkan bahwa pada kuartal pertama 2017 pasar hunian kelas bawah masih mendominasi pembelian.

Tidak hanya Bekasi, rumah dan apartemen terjangkau ini juga banyak tersebar di Tangerang. “Bekasi dan Tangerang masih terjangkau,” imbuh Head of Advisory JLL Indonesia Vivin Harsanto kepada pers, di Jakarta, Kamis (6/4).

Sedangkan penyerapan apartemen untuk kelas menengah ke atas masih menurun. Di Tangerang, misalnya.

Hal ini dikarenakan, harga yang terus berangsur naik menjadi Rp.800 juta-Rp.1,5 miliar.

Di Jakarta pun persediaan apartemen yang akan datang sebanyak 57.940 unit. Sedangkan pasokan yang sudah ada sekarang berjumlah 132.140 unit.

Dalam periode yang sama, jumlah penjualan apartemen hanya 1.237 unit dan proyek baru 1.333 unit dengan harga yang masih stagnan. Bila dibandingkan kuartal sebelumnya, akhir 2016 proyek apartemen baru yang diluncurkan hingga 1.591 unit.

Selain itu, Di Batu Ceper, Tangerang, misalnya. Harga rumah tapak Simprug diPoris sekarang telah mencapai Rp.3 miliar hanya untuk unit paling kecil.

Perumahan ini dikembangkan oleh Ristia Group lewat anak usahanya PT Nusantara Almazia pada kurun 1990-an.

Chairman Ristia Group Richard Wiriahardja mengatakan bahwa kini, Simprug diPoris begitu diminati pengguna akhir (end user) kalangan baby boomers atau generasi yang lahir tahun 1954-1965 dan investor.

“Mereka kemudian beranak-pinak melahirkan generasi kedua. Namun, karena harga rumah Simprug diPoris sudah sangat tinggi, generasi kedua ini tak mampu mengaksesnya. Sementara mereka sangat membutuhkan hunian,” ucap Richard.

Kebutuhan hunian generasi kedua inilah yang direspons Ristia Group dengan membangun hunian vertikal Poris 88.

“Kami tak mungkin lagi membangun rumah tapak. Selain lahannya terbatas, juga perhitungan harga yang tidak terjangkau anak muda,” tutup Richard.