Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id –  Kelompok terbesar pencari hunian atau perumahan di Indonesia sekarang ini adalah keluarga muda atau kaum millenial dengan usia produktif antara 30 sampai usia 35. Namun sayangnya, harga perumahan sekarang ini semakin tidak terkejaroleh penghasilan kaum millenial untuk membeli perumahan.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda, yang jadi inti permasalahan adalah harga hunian sudah melambung tinggi sejak beberapa tahun belakangan ini di karenakan sudah tidak adanya lahan kosong di Jakarta.

“Sekarang ini sudah sulit mencari hunian premium di bawah Rp 250-an jutaan. Memang ada pilihan rumah tapak yang bersubsidi FLPP seharga di bawah itu. Tetapi lokasinya terlalu jauh dari tempat mencari nafkah, sehingga menyurutkan minat kaum millenial,”jelas Ali Tranghada.

Kondisi yang dirasakan kaum muda sekarang jaman now, ujar Ali Tranghada, dirasakan generasi muda yang sekarang sudah tua. Meskipun infrastruktur transportasi terus di bangun, tapi kembali pada faktor waktu tempuh yang menjadi alasannya.

Yang menjadi perbedaan dari kondisi permasalahan perumahan antara generasi millenial dengan generasi sebelum pada eranya adalah harga properti yang sekarang ini melejit seakan tidak terkendali emninggalkan daya beli generasi muda yang terus mengalami kesulitan untuk memperoleh hunian dengan kondisi penghasilan di jaman sekarang ini.

“Pemerintah yang harus mengambil alih sebagian tanggung jawab ini dengan membangun hunian-hunian vertikal murah yang terintegrasi dengan TOD harus secara serius dikembangkan. Konsep bank tanah harus segera di terapkan,” jelasnya.

Lanjut Ali Tranghada, pemerintah harus gerak cepat untuk mengamankan tanah-tanah di sekitar TOD (Transit Oriented Development) yang artinya pihak pemerintah melakukan pendekatan pengembangan kota dengan mengadopsi tata ruang campuran dan maksimalisasi penggunaan angkutan massal seperti LRT dan MRT. Sehingga tidak terjadi aksi spekulatif harga tanah yang malah semakin tinggi.

“Lahan milik BUMN/BUMD sebagian seharusnya bisa‘dihibahkan’ untuk kaum milenial dengan harga yang terjangkau. Mengingat saat ini meskipun telah banyak BUMN yang menyasar pasar milenial namun harga yang ditawarkan masih jauh dari keterjangkauan kaum milenial itu sendiri,” ungkap Ali.

Ide atau gagasan lain, imbuhnya, bisa membuat hunian di atas pasar tradisional. Pembangunan hunian semacam ini bisa di barengi dengan revitalisasi pasar, sehingga bisa menjadi solusi alternatif bagi pekerja muda yang selama ini menopang kebutuhan kehidupannya dari penghasilan sebagai karyawan di Jakarta.

Masih katanya, masalah kepemilikan lahan seharusnya tidak menjadi masalah asalkan payung hukum dan kebijakannya jelas serta terjamin kepastian hukumnya. Pihak swasta pun harusnya dapat dilibatkan dalam bentuk CSR untuk kemudian dibangun rusunami atau rusunawa untuk kaum pekerja.

“Jadi tidak hanya untuk kepentingan masyarakat gusuran, melainkan untuk para pekerja profesional yang membutuhkan hunian yang tentunya dengan fasilitas yang lebih baik. Konsep penataan kota dengan pendekatan konsep hunian vertikal harus segera dilakukan,”kata Ali Tranghada, menyudahi bincang-bincang dengan INAPEX.co.id.