Female Apartment. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Inilah penilaian soal rencana pemindahan Ibu Kota Jakarta ke Pulau Kalimantan di era digital ternyata banyak menimbulkan kontroversi dikalangan pengusaha. Rencana itu dinilai tidak sesuai dengan perkembangan global.

Ditengah era digital dan teknologi, informasi yang terus berkembang dengan sangat cepat, sejumlah perusahaan justru melakukan terobosan dengan cara kerja di rumah atau memilik tak menyewa kantor atau biasa disebut officeless.

Tak hanya itu, wacana pemindahan ibukota juga dinilai sebuah kemunduran jika Indonesia justru ingin memindahkan fisik pusat pemerintahan ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah yang daerahnya belum banyak melakukan pembangunan infrastruktur.

“Di zaman internet seperti sekarang kalau mindahin kan fisik selaga macam itu sangat riskan dan banyak menelan biaya. Mungkin kalau di zaman dulu era tahun 1900an masih masuk akal, karena daerahnya masih mudah untuk dilakukan pemindahan. Lah orang sekarang administrasinya model digital semua kok,” ungkap salah seorang konsumen properti Gessy Aprilia Putri, menanggapi rencana pemindahan Ibukota saat ditemui di Galery Marketing Female Apartemen Khusus Wanita dikawasan Depok, Kamis (6/7).

Terlepas itu, populasi wanita yang jumlahnya cukup banyak terutama dikawasan Depok bisa dijadikan salah satu peluang untuk membangun apartemen khusus wanita. Persaingan bisnis apartemen yang meluap di Jalan Margonda Raya, Depok, dinilai akan semakin ramai.

Bahkan, penyempitan pasar tersebut juga diakui Direktur Proyek Female Apartment Adhigrya Pangestu I Wayan Ekadiana bukan tanpa pertimbangan yang jelas, tetapi dengan landasan yang berdasarkan realitas di lapangan.

“Jadi ketika ide ini tercetus kami lempar ke dua konsultan untuk visibilitas pasarnya dan keduanya mendukung. Data spesifik yang kami ambil secara statistik ada korelasi popoulasi di Depok itu 50 persen-nya wanita,” paparnya.

Tidak hanya itu, apartemen yang ditujukan pada investor sebanyak 80 persen ini juga mempunyai pangsa pasar sangat besar, khususnya dari kalangan mahasiswi dengan lokasi yang dekat dengan tiga kampus besar. “Apartemen ini digagas dengan tema spesifik dan unik serta menjadi yang pertama di Indonesia,” kata Wayan.

Mahasiswi dari Universitas Pancasila, Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Gunadarma dibenarkan Wayan merupakan pasar yang terbilang besar untuk apartemen wanita.

“Rata-rata tiap tahunnya ada 20.000 mahasiswa-mahasiswi baru dan dengan asumsi 50 persen dari mereka adalah mahasiswi maka ada captive market 10.000 orang. Ini lebih dari cukup untuk apartemen kami yang totalnya 551 unit,” jelasnya.

Tidak hanya populasi wanita, apartemen wanita dibangun juga berdasarkan tingkat kriminalitas yang kerap terjadi membuat wanita jadi korbannya dan timbul rasa khawatir.

“Oleh sebab itu, ada kebutuhan psikologis bagi orangtuanya untuk mencarikan putrinya tempat tinggal yang aman dan kami melihat ini sebagai kesempatan,” jelas Wayan.

Untuk tipe unit yang bisa disediakan dalam apartemen wanita yaitu tipe studio dengan luasan beragam antara lain 39 meter persegi, 33 meter persegi, 30 meter persegi, 28 meter persegi, dan 25 meter persegi.

Harga per unit dipatok dengan harga mulai dari Rp500 juta dengan potensi sewa mencapai Rp3 juta sampai Rp4,5 juta per bulannya. “Sampai saat ini komposisi apartemen 50 persen investor dan 50 persen end user,” jelas Direktur Komersial Female Apartment-Adhigrya Pangestu Muhamad Gafani.

Untuk investor, tambah Wayan, pihaknya tak membatasi jenis kelamin, akan tetapi untuk penghuni hanya diperbolehkan wanita.

FEMALE APARTEMENT

  • Intstallmet 36X
  • Booking Fee 50%
  • Down Payment 10%
  • Informasi lengkap Hubungi: 021 291 20 777

 

 

(ADV)