4 Pengusaha terkaya properti di Indonesia. (Foto: ist)
4 Pengusaha properti terkaya di Indonesia. (Foto: ist)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Tak mudah untuk mencapai puncak keberhasilan disektor bisnis properti. Kendati demikian, kerja keras para anak bangsa ini patut mendapat acungan jempol.

Pasalnya, 4 pengusaha properti ini tak hanya mampu mencapai puncak kesuksesan, namun juga berhasil menjadi seorang terkaya di Indonesia.

Bahkan empat nama pengusaha properti terkaya itu dirilis Forbes, Ir. Ciputra berada di posisi 15 dalam daftar tersebut serta menyebutkan kekayaan mencapai USD1,6 miliar atau Rp21,6 triliun (kurs Rp13.538).

Kemudian posisi berikutnya, nama Alexander Tedja didaulat masuk catatan nama orang terkaya di Indonesia, dengan memiliki kekayaan USD1,3 miliar atau Rp17,5 triliun dirinya berada di posisi 24. Alexander diketahui merupakan pemilik dari Pakuwon Jati. Beberapa proyek tengah dijalankan oleh perseroan seperti pembangunan kantor dan kondominium.

Selanjutnya, Eka Tjandranegara masuk dalam daftar orang terkaya memiliki total kekayaan USD1,3 miliar atau Rp17,5. Dengan jumlah kekayaannya itu, namanya berada di posisi 26. Pria berusia 70 tahun tersebut diketahui merupakan pemilik dari group Mulia. Perusahaan berencana membangun bangunan pencakar langit dengan biaya hingga USD800 juta.

Kendati baru merambah dunia properti, namun dengan kekayaan yang mencapai USD1,2 miliar atau Rp16,2 triliun, nama Husodo Angkosubroto perlu dipertimbangkan dalam dunia properti. Melalui perusahaan properti Farpoint, kini pihaknya tengah menggarap sebuah proyek di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Terlepas itu, sejak bergulirnya program amnesti pajak (tax amnesty) di Indonesia pada Juli lalu, data Direktoral Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU) Kementerian Keuangan disebutkan dana repatriasi sudah mencapai Rp143 triliun. Dana deklarasi dalam negeri mencapai Rp2.826 triliun dan deklarasi luar negeri Rp985 triliun.

Dana amnesti pajak sebanyak 60 persen mengalir pada sektor properti. Wajib Pajak secara nasional untuk segmen real estat sebanyak Rp26.247 triliun.

Melihat data itu, Direktur Departemen Kebijakan Makropudensial Dwityapoetra Soeyasa Besar, merasa optimistis dana amnesti pajak berdampak disektor properti. “Peningkatan pertumbuhan KPR tumbuh 10 sampai dengan 12 persen saat ini,” katanya.

Disebutkannya September lalu, sudah ada 100 pengajuan KPR secara nasional. Dan Jakarta adalah wilayah pengaju kredit terbanyak. Jumlah wajib pajak saat ini sudah menyentuh angka Rp26.247 triliun.

Rata-rata tebusan untuk real estat sebesar Rp578 miliar. Akan tetapi, jumlah wajib pajak tersebut belum menyentuh 5 persen. Namun, dirinya yakin pada 2018-2020 perekonomian.

untuk properti bakal melejit. “Saya yakin pengaju KPR bisa meningkat pada 2018 sampai 2020. Apalagi suku bunga BI 7 day (Reverse) Repo Rate sudah turun sebesar 4,75 persen. Ini sangat berpengaruh sekali,” ujarnya.

Sedangkan pengajuan KPR rata-rata merupakan kepemilikan rumah pertama. Kini jumlah kepemilikan rumah pertama sudah di atas 50 persen. “Semuanya yang punya rumah pertama luasannya di atas 70 meter persegi,” ucapnya.