Di Kota Sutera Tangerang, Harga Rumah Masih Rp.300 Jutaan
Ilustrasi (Foto: jualo)

 

DEPOK, INAPEX.co.id – Ternyata ini penyebab harga rumah dikawasan Depok, semakin mahal dibanding wilayah lain. Fakta itu juga terbukti pada hasil survey pencari rumah di pameran Indonesia Properti Expo 2017 yang mencatat harga rumah di kawasan Depok terus meningkat.

Hal itu juga terbukti pada rentang Februari 2017 lalu, harga rumah meningkat lebih mahal mulai dari Rp 400 juta sampai Rp 2 miliar per unit. Nilai tersebut menjadi alasan salah satu konsumen properti terus berburu properti di kawasan Depok ini.

Angka ini tidak berbeda jauh dengan harga disepanjang musim pameran properti Agustus 2016, yaitu Rp 200 juta per unit sampai Rp.1 miliyar. Country Manager INAPEX.co.id, Toerangga Putra mengatakan, sepanjang tahun 2016 kemarin, properti pada kategori ini di Depok terus mengalami kenaikan sebesar 1,14 persen.

“Data pencari rumah merupakan hasil akumulasi dari ribuan pengunjung pameran Indonesia Properti Expo (IPEX),” katanya, Senin (10/7).

Penyelenggara pameran IPEX juga mencatat bahwa suplai hunian di Depok mengalami peningkatan sejak awal tahun 2016 lalu. “Pada Februari 2016, misalnya, terjadi peningkatan suplai sebanyak 29 persen dan meningkat 51,2 persen di Agustus 2016,” jelasnya.

Menurut Toerangga, peningkatan suplai hunian didorong oleh rencana pembangunan berbagai sarana infrastruktur yang sudah dan akan dimulai pada tahun 2017 ini. Seperti wilayah maupun kota-kota lain yang terus menggenjot pembangunan infrastruktur, Depok juga akan memiliki sejumlah jalur baru untuk menunjang perekonomian kota sekaligus mengurai kemacetan lalu lintas.

Proyek-proyek itu meliputi pengembangan jalan tol Bocimi, stasiun KRL, LRT, dan Terminal Batu Jajar. Kota Depok, Jawa Barat yang diketahui tumbuh dengan berbasis ekonomi kreatif, sangat membutuhkan dukungan transportasi publik. Tak hanya itu, Kota Depok juga memiliki keunggulan sumber daya manusia khususnya dikalangan muda dari sejumlah perguruan tinggi disekitarnya.

“Depok bisa menjadi kota percontohan di Indonesia dengan perkembangan kotanya khususnya di era otonomi saat ini,” ujar Ali Berawi, Direktur Direktorat Riset & Pengembangan Masyarakat (DRPM) Universitas Indonesia (UI), dalam diskusi tentang potensi Kota Depok di kampus UI Depok, beberapa waktu lalu.

Dalam 10 tahun mendatang perkembangan Kota Depok diprediksi bakal semakin pesat. Oleh sebab itu Pemkot Depok harus mengimbangi dengan pembangunan proyek infrastruktur untuk menciptakan kota yang lebih berkelanjutan (sustainable city).

Pembangunan jalan harus mengikuti pengembangan wilayah yang saat ini terus melebar keluar dari pusat pengembangan yang terpusat di Jl Raya Margonda.

“Depok harus dibangun dengan mengusung sarana transportasi publik dan pedesterian yang mengintegrasikan kawasan komersial dengan hunian khususnya apartemen,” imbuhnya.

Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan baru harus terus didorong agar semua wilayah ikut terangkat. Hal ini tidak dapat dihindari mengingat koridor Margonda sudah padat dan dukungan infrastrukturnya semakin terbatas. Kalau integrasi wilayah dapat diciptakan melalui penyediaan infrastruktur dalam 10 tahun mendatang kota ini akan menjadi lebih baik.

Apalagi, setelah lebaran tahun ini Pemerintah bakal membangun rumah susun (rusun) serta apartemen di dekat stasiun KRL Jabodetabek, dengan skema transit oriented development (TOD). PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) ditunjuk sebagai penyedia pembiayaan lewat kredit kepemilikan apartemen (KPA).

Direktur Utama BTN Maryono menjelaskan, perumahan TOD akan berisi apartemen, rusunami dan beberapa rumah toko (ruko). TOD merupakan kawasan hunian terpadu yang terkoneksi dengan jalur angkutan massal seperti TransJakarta, KRL, MRT, dan LRT.

“Jadi itu segmennya beda-beda. Tapi yang banyak memang segmen menengah, jadi lebih banyak ke KPA, karena itu kan nanti lebih ke apartemen. Nanti kita bisa memberikan fasilitas KPA-nya ada yang nonsubsidi dan ada yang subsidi,” tutur Maryono di Jakarta, belum lama ini.

Apartemen akan diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah. Harganya berkisar Rp 400 juta ke atas, tergantung lokasi. Rencananya Perum Perumnas yang ditunjuk untuk membangun proyek properti tersebut.

“Variasi juga, ya mungkin Rp 400 juta ke atas. Karena tidak akan bisa masuk kalau menengah harga Rp 400 juta, mungkin ada yang harga Rp 600 juta, ada yang Rp 800 juta,” imbuhnya.