Sudah Tahukah Anda, Keuntungan Membeli Rumah Dengan DP?
Ilustrasi (Foto: dok.inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Sejumlah bahan material bangunan mengalami perubahan, diantaranya harga semen turun bekisar Rp.2000 per sak serta harga bata ringan juga lebih murah Rp.25.000,- per meter kubik.

Tentunya perubahan harga tersebut sangat menguntungkan bagi industri properti di tanah air. “Ini sangat menguntungkan pada industri properti, karena biaya produksi juga sangat berdampak pada nilai jual rumah yang mereka pasarkan,” ungkap Pengamat Properti Indonesia Toerangga Putra kepada INAPEX.co.id, di Jakarta, baru-baru ini.

Namun, perubahan harga bangunan tak sepenuhnya mengalami penurunan. Disisi lain, seperti bahan bangunan tripleks justru mengalami kenaikan Rp. 2000 per lembar.

Sementara itu, diawal tahun politik 2019 suplai rumah subidi diprediksi mampu mendorong pertumbuhan pasar properti.

“Suplai rumah subsidi masih mendominasi serta mampu mendorong pertumbuhan pasar properti ditahun politik,” ungkap toerangga.

Selain hunian komersil seperti apartemen dan condotel suplai rumah subsidi dan sejumlah kebijakan pemerintah melalui kemudahan perizinan juga menjadi ujung tombak pada sektor properti.

“Beberapa kebijakan pemerintah lainnya seperti pelonggaran Loan to Value (LTV), serta program sejuta rumah bisa memudahkan masyarakat, terutama kelas menengah dan bawah untuk beli rumah,” tambah Toerangga.

Menurutnya, proyeksi harga properti secara keseluruhan sempat melemah pada awal 2018, tapi pada kuartal kedua kembali menguat. Kendati demikian, Toerangga menilai kondisi tersebut sangat wajar karena sudah menjadi dinamika selalu diawal tahun.

Disisi lain, menanggapi tentang skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dinilai masih perlu pelonggaran untuk regulasinya.

Pasalnya, seiring tujuan prioritas utama pemerintah menerbitkan beberapa regulasi KPR yaitu untuk melindungi konsumen.

Tapi, regulasi itu justru merugikan bagi para pembeli properti, karena harga hunian menjadi lebih mahal. Demikian seperti diungkapkan Pengamat Properti Indonesia Toerangga Putra, menanggapi terkait pelonggaran regulasi KPR.

’’ Sebab para konsumen terpaksa harus beli menggunakan cara bayar in house ke developer sehingga cicilannya tinggi. Kemudian kalau bisa KPR, pengembang terima uang dari bank, harga cicilan bisa murah,’’ ujar Toerangga Putra.

Pada umumnya properti ditahun ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat positif. ’’Meski demikian, pengembang tetap harus berusaha keras,’’ tambah Toerangga Putra.

Apalagi, banyak pengembang properti yang juga meluncurkan produk-produk baru. Toerangga Putra juga menambahkan, saat ini banyak proyek properti hampir menyelesaikan target pembangunannya.

Fakta itu terlihat disejumlah wilayah terkait penyediaan hunian yang siap diserah terimakan, seiring adanya kenaikan penjualan dengan mekanisme KPR.