Ini Alasan Investasi Properti Sangat Digemari Masyarakat
Investasi Properti (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Properti adalah satu-satunya instrumen investasi yang sangat digemari ketimbang lainnya. Alasan pertama, harganya terus naik. Kedua, produk investasinya nyata, atau dapat dilihat dan disentuh. Ketiga, lebih aman sebab pemilik dapat mengendalikan sendiri investasinya.

Demikian yang dijelaskan Andy K Natanael, founder Proviz, perusahaan konsultan pemasaran properti di Jakarta, baru-baru ini. Sayangnya, lanjut Andy, banyak investor di Indonesia masih memilih short term period dalam mengembangkan investasinya.

“Mereka akan segera menjual properti nya saat (properti tersebut) sudah jadi dan (sudah) serah terima. Itu mereka lakukan kurang lebih 2-3 tahun sejak berinvestasi. Bahkan, ada yang baru membayar booking fee langsung menjual lagi lantaran properti itu banyak diminati orang,” ungkap Andy.

Andy menilai bahwa tipe yang seperti ini tak tepat dikatakan sebagai investor, namun disebut sebagai spekulator. Orang tersebut hanya bermodalkan booking fee, atau setidaknya hanya sampai down payment saja.

“Investasi properti itu butuh waktu setidaknya minimal 5 sampai 10 tahun. Kenapa, karena kita harus mengetahui ciri -ciri properti itu bisa naik atau tidak, bisa mendapatkan gain atau yield atau tidak,” imbuh Andy.

Konsultan pemasaran properti Ratdi Gunawan sependapat dengan Andy, bahwa keuntungan utama berinvestasi di sektor properti ialah nilai sewa dan capital gain yang terjadi karena progres penjualan maupun pembangunan.

“Nilai sewa apartemen tiga kali lipat dari nilai sewa rumah dan ruko yang hanya tiga sampai empat persen per tahun,” jelas Ratdi.

Ratdi mencontohkan, cara mendapatkan keuntungan investasi dari nilai sewa unit apartemen. Hal tersebut tak jauh berbeda dengan berbisnis sewa indekos.

“Kalau tiga sampai lima tahun ke depan apartemen ekslusif yang Anda beli ini bisa disewakan Rp.5 juta sampai Rp.6 jutaan per bulan, berarti nilai sewa setahunnya itu Rp.60 jutaan,” jelas Ratdi.

Founder Projek, Andy K Natanael memaparkan bahwa ada sejumlah faktor yang mendukung kenaikan harga properti. Faktor pertama ialah lokasi. Bicara lokasi, menurutnya, tak hanya properti di tengah kota yang bagus lokasinya. Tetapi, berkaitan dengan akses dan sarana transportasi umum yang melintasinya.

Kedua, banyak yang ingin membeli tetapi bukan sebagai investor semua. Andy mengatakan bahwa faktor kedua adalah hal yang menjadi daya tarik.

“Bayangkan kalau satu developer yang menjual ribuan bahkan puluhan ribu unit dalam satu periode dan pembelinya sebagian besar merupakan investor. Pada saat bersamaan, yaitu sejak serah terima unit semua investornya ingin menjual, maka akan terjadi over supply dan tentu harga bukannya naik, malah turun. Harga sewa akan terjun bebas,” lanjut Andy.

Faktor ketiga kenaikan yakni banyaknya pembeli unit yang menghuni proyek properti tersebut. Dengan banyaknya penghuni, secara langsung kehidupan kawasan properti akan tercipta dan dengan sendirinya harga melambung.

“Jadi, developer memang pada dasarnya mengembangkan kawasan, bukan memperdagangkan (kawasan) sehingga harus mempunyai strategi dalam membuat para pembeli segera menghuni atau memanfaatkan properti yang dibelinya, baik sebagai hunian maupun sebagai tempat usaha,” tuntas Andy.