Ini Alasan Beli Hunian Harus Tahun 2018!
Ilustrasi (Foto: trendingtopic)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Ini alasan beli hunian harus tahun 2018. Konsultan properti Colliers International Indonesia memaparkan laporan tiga bulanan ketiga (Q3) 2017 terkait pasar properti di Jabodetabek dan Bali diantaranya perkantoran, ritel, apartemen, hotel (Jakarta-Bali) dan kawasan industri.

Colliers melihat pasar apartemen di Jabodetabek yang jumlah suplainya akan menyentuh angka 15.277  unit sampai akhir tahun 2017 dan diproyeksikan mencapai 34 ribu tahun depan.

“Apartemen baru masuk secara bergantian dan memecah fokus pembeli. Developer kasih harga yang impresif, marketing effort-nya menggoda konsumen. Kelihatannya di awal bagus penjualannya, tapi beberapa bulan bisa melambat karena ekspektasi pembeli berkurang,” papar Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, kepada pers di Jakarta, Kamis (5/10).

Tingkat penjualan tengah menurun dari 86,5 persen ke 84,9 persen di kuartal ketiga tahun 2018 sebab pertumbuhan harga apartemen tak sesuai ekspektasi konsumen yang biasanya 10-15 persen per tahun.

Kelas menengah atas yang memiliki kemampuan membeli sangat melihat keadaan makro ekonomi dan politik dengan cukup ketat sehingga menahan untuk membeli apartemen.

“Bagi mereka (kelas menengah atas) buat apa beli kalau tidak menghasilkan. Sekarang situasinya harga tidak bergerak, suplai melimpah, capital gain hanya 4,6 persen per tahun, rental market (Pasar sewa) juga belum berkembang,” jelasnya.

Sedangkan pembeli dari kelas menengah bawah begitu concern terhadap nominal uang muka dan cicilan yang terjangkau. Menurut data yang dihimpun Colliers, pembeli yang memakai fasilitas kredit kepemilikan apartemen (KPA) kini lebih banyak dibandingkan tiga tahun lalu.

“Pelonggaran LTV (loan to value) atau plafon kredit dan bunga rendah sangat berperan. Tapi, penurunan bunga BI-7 day reverse repo rate menjadi 4,25 persen akhir September lalu belum diikuti penurunan bunga kredit,” tuturnya.

Adapun tren pasar perkantoran tengah meningkat pada ruang kantor yang telah siap pakai (fitted-out) dan menjamurnya penawaran co-working space serta private office di lokasi premium.

“Minat pasar tinggi, bukan window shopping lagi tapi sudah tahap eksekusi untuk ruang-ruang kantor yang layak pakai, ditinggalkan pemilik lama tapi masih ada isinya. Tinggal diubah-ubah sedikit bagian resepsionisnya,” imbuhnya.

Harga sewa dan okupansi perkantoran di kawasan bisnis (CBD) dan di luar CBD condong menurun. Okupansi perkantoran rerata di CBD dari 83,3 persen sekitar 78,5 persen, dan di luar CBD stagnan dari 83,5 persen jadi 83,3 persen.

Sedangkan di sektor ritel, tutupnya berbagai gerai besar di pusat perbelanjaan mengindikasikan peminat berkurang sebab konsumen makin selektif berbelanja. Okupansi mal menurun sampai 83,5 persen di kuartal tiga.

“Kalau gerai tutup bukan salah, tapi memang nggak diminati. Sementara biaya mal mahal. Ritel itu simpel, kalau masyarakat duitnya banyak, pasti tumbuh,” jelas Senior Associate Director Retail Services Colliers Indonesia, Steve Sudijanto.

Pendapatan yang dipakai untuk konsumsi (disposable income) kini, lanjut Steve, lebih banyak untuk makan-makan dan minum-minum di mal sebagai bagian dari gaya hidup saat ini.

Sedangkan mengutip survei Nielsen soal kehadiran toko online di Indonesia, sejauh baru sekitar satu persen yang reguler berbelanja secara online. Selebihnya orang Indonesia masih merasa nyaman pergi ke toko fisik untuk melakukan kegiatan berbelanja.