Vice Presidence PT Adhouse Clarion Events, Igad Permana pada technical meeting IPEX 2018 di Ruang Merak JCC.

JAKARTA, INAPEX.co.id – Industri properti diawal Tahun 2019 diprediksi akan kembali menggeliat, setelah beberapa triwulan penyaluran kredit perbankan mengalami perlambatan.

“Industri properti saya prediksi diawal tahun depan akan kembali menggeliat. Apalagi, kondisi pertumbuhan itu juga akan terbukti pada nilai transaksi di pameran Indonesia Properti Expo yang akan kembali hadir di bulan Februari 2019 mendatang,” ujar Vice Presidence PT. Adhouse Clarion Events Gad Permana, kepada INAPEX.co.id, di Jakarta, Selasa (6/11/2018).

Sementara data Bank Indonesia (BI) mencatat kredit properti perbankan pada September 2018 tumbuh melambat, hanya 14,8 % year on year (yoy) dibandingkan dengan bulan sebelumnya tumbuh 15,5 % yoy.

Kendati demikian, pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) pada September 2018 masih cukup tinggi dibandingkan dibulan sebelumnya, khususnya pada KPR tipe di atas 70 meter persegi di wilayah DKI Jakarta dan Jabar.

Lani Darmawan, Direktur Konsumer CIMB Niaga menjelaskan, meski secara industri KPR dan kredit pemilikan apartemen (KPA) mengalami kenaikan, segmen atas masih agak menurun.

Hingga September 2018, masih dikatakan Lani Darmawan, pertumbuhan KPR Bank CIMB Niaga sebesar 10 % secara yoy.

Pertumbuhan KPR berasal dari kerja sama dengan pengembang, agen properti, dan cross selling dengan nasabah.

Tambok P Setyawati, Direktur Bisnis Ritel Bank BNI juga menambahkan, permintaan KPR hingga September 2018 cukup stabil. “Kami perkirakan sampai akhir tahun tumbuh 9-10 persen,” katanya.

Menurutnya, secara umum kredit griya BNI hingga September 2018 masih tumbuh 9,1 % yoy. Strategi BNI untuk meningkatkan kredit KPR adalah dengan fokus pada segmen pegawai, milenial, dan memperbanyak kerja sama dengan pengembang.

BNI juga ikut dalam penyaluran KPR subsidi baik dengan mekanisme Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) maupun subsidi.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan II Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Boedi Armanto mengakui, kemungkinan kenaikan suku bunga dan pertumbuhan ekonomi yang relatif stagnan.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi cenderung melambat mengakibatkan kredit tetap tumbuh, tapi tidak sebesar pertumbuhan sebelumnya.

Kendati demikian, kredit properti ke depan akan meningkat karena terus bertambahnya jumlah penduduk.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Filianingsih Hendarta menyatakan, peningkatan kredit properti khususnya KPR/KPA sudah mulai deras. Satu penyebabnya adalah pelonggaran mengenai loan to value (LTV).

Mahelan Prabantarikso, Direktur Strategi Risiko dan Kepatuhan Bank Tabungan Negara (BTN), mengungkapkan, pertumbuhan kredit properti sampai September 2018 sebesar 19,28 persen secara yoy menjadi Rp 220 triliun.

Menurutnya, hal itu antara lain dikontribusikan dari relaksasi LTV.”Pertumbuhan kredit properti utamanya didorong segmen menengah ke bawah, termasuk di dalamnya KPR subsidi,” jelasnya.

BI yakin target pertumbuhan KPR sebesar 13 persen di akhir tahun 2018 bakal terealisasi. Biasanya permintaan pada Desember akan mengalami peningkatan.