konstruksi
PUPR Perbanyak Konstruksi (Foto: dok.inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono membeberkan proyek-proyek infrastruktur yang sedang dikerjakan dan akan dibangun hingga 2019.

Sejak 2014, menurut Basuki, telah banyak infrastruktur, khususnya jalan tol yang dibangun memberi efek positif terhadap daya saing Indonesia. Hal ini ditunjukkan dari hasil riset Global Competitiveness Index.

“Dengan apa yang sudah kita lakukan, bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan, itu kita (Indonesia) sudah naik rankingnya. Berarti ada hasilnya,” papar Basuki pada acara Economic Challenges: Transportation Outlook 2017, di Hotel Borobudur, Jakarta, baru-baru ini.

Basuki menuturkan bahwa riset ini menunjukkan bahwa pada 2014, Indonesia berada di peringkat 84.

Kemudian pada 2015, peringkat Indonesia naik ke 72 dan hingga tahun 2016, daya saing infrastruktur Indonesia kembali mengalami kenaikan ke peringkat 64.

“Pembangunan jalan ini, memang kita harus menyediakan prasarana jalan ini untuk berpindah atau memindahkan orang dan jasa dengan lebih cepat, lebih aman, dan lebih murah. Itu prinsipnya,” jelas Basuki.

Prinsip ini bisa membawa Indonesia memimpin kompetisi dalam hal daya saing infrastruktur.

Basuki juga mengatakan bahwa selama 40 tahun, Indonesia baru membangun 480 kilometer.

Untuk mempercepat pembangunan, Kementerian PUPR akan membangun jalan tol dalam 5 tahun ke depan dengan menambah minimal 1.873 kilometer.

“Walaupun 1-2 tahun itu ada kemacetan seperti pada 2017 ada kemacetan di tol, tapi tidak akan separah 2016,” tutup Basuki.

Selain itu, terkait infrastruktur, belum genap satu bulan jalur pedestrian atau trotoar dan jalur sepeda sepanjang 4 km yang dibangun di lingkar luar Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor, ada banyak kekurangan.

Trotoar ini juga belum ramah untuk kalangan penyandang cacat (disabilitas).

Terburu-burunya proyek sebesar Rp.32 miliar tersebut berdampak buruk ketika hujan deras. Air meluap dari lubang saluran air/drainase jalur pedestrian sampai menggenang di Jalan Raya Otista.

Bahkan, jalur khusus dengan tanda garis kuning (yellow line) posisinya ada di pinggir jalur pedestrian yang berbenturan dengan PJU, tempat sampah, dan rambu.

“Seharusnya penyediaan fasilitas umumnya juga dilengkapi untuk kaum disabilitas itu harus memudahkan, baik kemudahan saat digunakan maupun aksesnya,” jelas pengamat politik dan kebijakan publik Institut Pertanian Bogor (IPB) Yus Fitriadi, Kemarin.

Menurutnya, keberadaan jalur pedestrian juga sudah semestinya memperhatikan segi keamanan, keselamatan, dan kenyamanan.

Mulyana, 28, warga Babakan Pasar, Bogor Tengah, Kota Bogor, menjelaskan bahwa air meluap deras dari lubang drainase sejak tiga hari lalu. Bahkan, ia mengaku hampir terpeleset ketika melalui Jalan Otista.

Sekda Kota Bogor Ade Sarip mengakui hasil pekerjaan proyek jalur pedestrian dan jalur sepeda di lingkar KRB dan Istana Bogor tidak memuaskan.

“Masyarakat bisa melaporkan kepada wali kota Bogor atau dinas terkait ketidaknyamanan atau kerusakan dari jalur pedestrian yang baru seumur jagung itu,” jelasnya.