Hunian Type 42/78 Graha Aquila, Bisa Dicicil Hanya Rp.3 Jutaan. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id –  Hunian Type 42/78 Graha Aquila, bisa di cicil hanya Rp.3 jutaan dengan tenor 20 tahun. Tak cuma itu, untuk menuju lokasi Graha Aquila juga dapat ditempuh dalam waktu 15 menit menuju ke Kawasan Bumi Serpong Damai (BSD).

Harga spesial itu ditawarkan khusus Type Kartika Graha Aquila yang dikembangkan PT. Graha Aquila Propertindo berlokasi di Jl. Intan I No.70, Cidokom, Cidoko, Gunung Sendur Bogor Jawa Barat.

“Kami tawarkan beragam jenis pilihan hunian di Graha Aquila diantaranya seperti, type A Kartika 42/78, type B Cakra 36/66, dan type C Standard 32/60,” jelas Puspita Rini Staf Pemasaran Graha Aquila saat dihubungi INAPEX.co.id, di Jakarta, Selasa (29/8).

Lebih lanjut dikatakan Rini, harga jual unit di Graha Aquila tersebut belum termasuk biaya proses KPR, BPHTB dan AJB BBN. “Tapi khusus edisi ini kami menawarkan gratis bonus mesin pompa jet pomp, serta fasilitas daya listrik 1300 Watt,” tambah Rini.

Sementara itu, tingginya permintaan kebutuhan hunian yang diajukan melalui skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dinilai sudah menggugurkan anggapan terkait rendahnya keberpihakan bank.

Apalagi tudingan itu hanya dilihat dari rasio penyaluran KPR terhadap PDB Indonesia jauh lebih rendah dibadingkan negara tetangga yaitu Malaysia yang mencapai 30%.

“Soal anggapan keberpihakan bank itu sangat tidak benar. Karena penyaluran KPR dari total nilai kredit, tidak bisa dibandingkan dengan kebutuhan perumahan di Indonesia. Apalagi diukur dari sisa pembangunan infrastruktur dan SDA, padahal faktanya peminat perumahan yang mengajukan KPR masih sangat tinggi,” tegas Pengamat Bisnis Properti Toerangga Putra.

Hingga akhir kuartal II 2017, penyaluran KPR PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk tumbuh sebesar 19% secara tahunan atau year on year (yoy).

Direktur Utama BTN, Maryono membenarkan, mayoritas penyaluran kredit perseroan masih berasal dari penyaluran KPR dan kredit konstruksi. “Sampai bulan Juni stabil di antara 19% sampai 20%. Masih on the track,” ujar Maryono.

Jika menggunakan asumsi pertumbuhan 19% sampai 20%, artinya hingga bulan Juni 2017 BTN telah menyalurkan kredit sekitar Rp 162,87 triliun.

Lebih lanjut dikatakan Maryono, pertumbuhan KPR khususnya KPR subsidi mengalami peningkatan sebesar 25% hingga 30% secara yoy. “Sementara non subsidi masih di bawah itu,” kata Maryono lagi.

Selain penghimpunan dana, sampai dengan bulan Juni 2017 Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan mengalami peningkatan sebesar 18% hingga 19% dibandingkan bulan Juni 2016. Memakai asumsi realisasi DPK Juni 2016, artinya hingga kuartal II 2017 BTN membukukan DPK sekitar Rp 147,23 triliun hingga Rp 148,47 triliun.