Hunian Murah di Tanjung Barat, Hanya 2 Menit Ke Stasiun
Hunian Murah di Tanjung Barat (Foto: fajararyanto)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Perum Perumnas dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) memulai pembangunan hunian murah dengan konsep transit oriented development (TOD) yang mengintegrasikan tempat tinggal dan fasilitas pendukungnya dengan stasiun atau terminal transportasi massal, dalam hal ini stasiun kereta komuter Tanjung Barat, Jakarta Selatan, di jalur kereta komuter Bogor-Depok-Jakarta.

Proyek TOD Tanjung Barat yang dibangun di atas lahan 1,5 hektar milik KAI akan terdiri dari tiga menara setinggi 29 lantai yang meliputi 1.232 unit hunian tipe studio 22 m2 senilai Rp.9,5 juta/m2 untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), dan tipe dua kamar 36 m2 seharga Rp.15 juta/m2 untuk konsumen non MBR.

Menurut Direktur Utama Perumnas Bambang Triwibowo, investasinya sekitar Rp.700 miliar.

“Setelah ini kami lanjutkan dengan peresmian proyek TOD di stasiun Pondok Cina dan stasiun-stasiun lain. TOD ini adalah proyek hunian yang diintegrasikan dengan fasilitas dan sarana transportasi massal, sehingga penghuni bisa lebih cepat dan murah mencapai tempat kerjanya,” jelasnya saat prosesi ground breaking (pemancangan tiang pertama) di lokasi proyek di Jalan Raya Lenteng Agung, baru-baru ini.

“Dari sini ke (pusat bisnis utama Jakarta di Jalan) Sudirman misalnya, hanya 30 menit dengan tiket Rp.3.000. Jadi, selain lebih efisien, penghuni juga jadi punya banyak waktu berkumpul dengan keluarganya,” lanjutnya.

Jadi, dari hunian masing-masing penghuni hanya tinggal turun ke bawah untuk menuju peron stasiun. Selain dengan stasiun kereta Tanjung Barat, apartemen juga terintegrasi dengan dua halte angkutan umum di seberangnya yang dihubungkan dengan jembatan penyeberangan orang (JPO).

Dalam acara ini juga dihadiri Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, dan Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat.

Apartemen dilengkapi fasilitas ritel di lantai 1-2 dengan konsep food and beverage (F&B) dan berbagai fasilitas lainnya. Jadi, sebelum berangkat kerja, penghuni dapat sarapan terlebih dahulu atau ngopi-ngopi sepulang kerja sebelum naik ke unit hunian masing-masing.

Tidak hanya dengan KAI, Bambang mengatakan bahwa pihaknya sudah meneken nota persepahaman (MoU) dengan Pemprov DKI Jakarta untuk mengembangkan hunian dengan konsep serupa. Namun, Pemprov DKI mengintegrasikan huniannya dengan pasar tradisional yang diremajakan menjadi modern.

Sekarang ini sudah diteken MoU untuk proyek TOD di Pasar Tanah Abang, Cempaka Putih, dan Grogol.

“Kalau konsep hunian seperti ini terus diperbanyak, masalah kemacetan akan berkurang di Jakarta. Selain itu di setiap stasiun juga akan berkembang pusat-pusat ekonomi baru. Nanti kami juga akan melengkapi proyek dengan park and ride (fasilitas parkir harian) untuk mobil dan motor,” jelas Bambang.

Karena dibangun di atas tanah milik KAI, status apartemen adalah HGB di atas HPL (Hak Pakai Lahan) dengan status unit atau satuan rumah susun (sarusun)-nya hak milik dengan skema sewa jangka panjang (lease hold) sampai 50 tahun yang dapat diperpanjang.