Unit Show Graha Natura. (Foto: Intiland)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Terhitung mulai Januari hingga September 2018, PT Intiland Development Tbk (DILD) mencatatkan penjualan pemasaran hanya Rp 1,6 triliun. Pencapaian itu masih jauh dari target yang dicanangkan perusahaan.

Tahun ini, Intiland membidik marketing sales Rp 3,3 triliun. Artinya, pencapaian selama 9 bulan pertama baru 48,4%. Tak hanya jauh dari target, perolehan itu juga turun 40% dari periode yang sama tahun 2017 yakni berhasil mencapai Rp 2,7 triliun.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono menjelaskan, penurunan kinerja penjualan itu salah satunya lebih disebabkan oleh melemahnya minat beli konsumen yang masih cenderung bersikap wait and see.

“Faktor lainnya, karena belum adanya peluncuran proyek baru selama sembilan bulan tahun ini.” katanya dalam keterangan resmi, belum lama ini.

Segmen pengembangan mixed-use dan high rise tercatat masih memberikan kontribusi marketing sales terbesar senilai Rp 1,1 triliun, atau 71% dari keseluruhan.

Segmen pengembangan kawasan perumahan menjadi kontributor marketing salesterbesar kedua yang mencapai Rp405 miliar atau 26% dari keseluruhan.

Penjualan terbesar di segmen ini berasal dari proyek Graha Natura di Surabaya dan Serenia Hills Jakarta.

Segmen pengembangan kawasan industri membukukan nilai marketing sales Rp 45 miliar atau 3% dari keseluruhan.

Kontribusi tersebut berasal dari penjualan lahan industri di Ngoro Industrial Park Mojokerto, Jawa Timur.

Archied menambahkan, ditinjau dari lokasi pengembangannya, kontribusi marketing sales terbesar berasal dari proyek-proyek di Jakarta dan sekitarnya yang mencapai RpRp1,2 triliun atau 80%.

Sementara sisanya berasal dari penjualan proyek-proyek di Surabaya yang mencapai Rp319 miliar atau 20% dari keseluruhan.

“Perseroan terus mencermati setiap tren perkembangan dan perubahan pasar. Perubahan minat beli konsumen, tren investasi, dan perkembangan kebijakan pemerintah menjadi faktor-faktor yang akan mempengaruhi perkembangan pasar properti tahun depan,” ujarnya.

Manajemen Intiland berharap kepercayaan pasar kepada sektor properti bisa segera pulih. Stabilitas kondisi makro ekonomi, tren penurunan suku bunga, dan relaksasi peraturan perpajakan serta penetapan peraturan kepemilikan properti bagi warga negara asing diharapkan mampu menjadi katalis bagi pasar untuk kembali berinvestasi di sektor properti.

Perseroan memproyeksikan kondisi pasar properti hingga akhir tahun ini belum banyak berubah dan belum sepenuhnya pulih.

Kondisi tersebut akan menyebabkan kinerja penjualan masih akan tertekan seiring dengan belum pulihnya minat beli dan investasi properti para konsumen.