Permata Prima salah satu proyek PPRO. (Foto:PP)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Hingga akhir tahun 2018, PT PP Properti Tbk (PPRO) melalui lounching 4 proyek terbarunya optimis bakal mencapai target penjualan Rp.3,8 Miliar.

Seperti diketahui, belum lama ini PPRO telah meluncurkan proyek apartemen baru di Babarsari Yogyakarta diatas lahan 8.000 meter dengan nilai Investasi Rp 370 miliar.

Total ketiga tower tersebut adalah 689 unit, masing-masing tower terdiri dari 10 lantai. “Karena baru launching penjualan kemarin, jadi yang memesan baru 5%an lah tapi pasti akan tumbuh lagi,” kata Direktur keuangan PPRO, Indaryanto, di Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, harga rata-rata penjualan di tower pertama per unit Rp 19 juta, sementara untuk tower kedua harga penjualan per unit Rp 22 Juta dan tower ketiga per unit Rp 23 Juta.

Indar menambahkan, pada tanggal 12 Desember mendatang PPRO akan melakukan launching tower 1 proyek The Grand Sagara di Surabaya, proyek ini merupakan proyek terbesar yang dibangun oleh PPRO pada tahun ini.

Tak tanggung-tanggung nilai investasi yang akan dikeluarkan oleh parusahaan dalam membangun proyek di Jawa Timur tersbut adalah sebesar Rp 10 triliun, proyek ini akan terdiri dari 10 tower dan 1 office yang ditargetkan selesai pada 15 tahun yang akan datang.

“Saat ini kita sudah ada pemesanan, di akhir tahun nanti maksimal tower satu sudah terjual 10% lah, kita sudah melakukan test market,” jelasnya. Proyek The Grand Sagara ini akan berdiri diatas tanah 5,2 hektar.

Indar menambahkan, setelah meluncurkan Grand Sagara Tower 1 tahun ini, PPRO akan meluncurkan proyek di BIJB Kertajati dan TOD Juanda di Jakarta hanya saja proyek tersebut tidak besar kerena hanya akan ada satu tower saja.

Terlepas itu, secara terpisah dampak situasi politik, industri properti 2019 diprediksi tubuh dibawah 10%. Asumsi pertumbuhan sektor properti itu, dihitung berdasarkan situasi industri yang belum sepenuhnya pulih.

Apalagi, target pertumbuhan 10% tersebut juga mempertimbangkan adanya pelaksanaan pemilihan umum yang akan berlangsung 2019.

“Pertumbuhan sekitar di bawah 10% belakangan ini. Tahun depan kan ada pemilu, sementara properti itu salah satu investasi yang sifatnya jangka panjang. Jadi kalau orang mau beli properti untuk investasi, orang pasti melihat situasi dan pertumbuhan ekonomi dan juga situasi politik,” ujar Ketua Kompartemen Properti Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Eddy Hussy, di Jakarta, belum lama ini.

Eddy Hussy tak terlalu yakin secara industri properti bisa tumbuh lebih tinggi pada 2019 dibandingkan 2010. Namun Eddy tetap optimis pasokan properti, baik rumah, perkantoran, apartemen, dan jenis properti lainnya tetap ada.

Untuk merangsang industri properti, lanjut Eddy Hussy, ada beberapa hal yang diminta oleh pengusaha salah mendorong kemudahan dari sisi pendanaan. Kemudahanan akses pendanaan yang dimaksud adalah menggalang dana dari pasar modal dari Kontrak Investasi Kolektif-Dana Investasi Real Estat (KIK-DIRE).

Sekedar informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Keuangan sudah membuat regulasi dan insentif pajak untuk KIK-DIRE yang dikeluarkan melalui paket kebijakan. Namun dalam pelaksanaannya masih terkendala oleh besaran pajak yang harus dibayar pengembang untuk mernerbitkan KIK-DIRE.

Aspek perpajakan dari KIK-DIRE adalah besaran tarif Bea atas Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang besarannya ditetapkan maksimal 5%. Di mana masing-masing daerah bisa melakukan penyesuaian, tergantung dari peraturan daerah masing-masing.

“Seperti instrumen DIRE itu belum berjalan di Indonesia, karena besaran pajak terutama BPHTB. Diharapkan bisa turun turun kurang dari 5%,” kata Eddy Hussy.

Eddy juga menyampaikan, dalam kurun waktu 2-3 tahun terakhir harga rumah dan apartemen cenderung turun.

“Banyak produk yang diluncurkan untuk perumahan maupun apartemen unit dan sebenarnya harganya lebih rendah dari 2-3 tahun lalu. Office space sekarang peluang bagus terkait digital ekonomi yang berkembang,” pungkas Eddy Hussy.