Hati-Hati, Pengembang Klaim Konsumen Kelebihan Tanah
Pengukuran Tanah (foto:donomulyo)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Pada umumnya kelebihan tanah biasa terjadi. Penjual dari pengembang yang mengklaim konsumen kelebihan tanah akan membuat konsumen sendiri merasa dipaksa untuk membayar kelebihan tersebut.

Klaim tersebut akhir-akhir ini marak dibuat oleh sejumlah oknum marketing nakal yang hasilnya atau uang dari konsumen untuk dinikmati sendiri.

“Oleh sebab itu, agar tidak timbul masalah konflik, pengembang harus bersikap kooperatif dan jujur kepada Anda sebagai konsumen,” jelas Cynthia P. Dewantoro, pengacara hukum properti, di Jakarta, belum lama ini.

Supaya permasalahan seperti ini, masih dikatakan Cynthia, tak dinilai salah oleh kedua pihak maka seharusnya pengembang bisa melakukan sejumlah tindakan pencegahan.

Misalnya memberikan informasi atau penjelasan yang lengkap kepada konsumen di awal transaksi jika kelak sesudah pengukuran akhir kedapatan kelebihan tanah yang dibeli.

Selain itu, pengembang juga mencantumkan informasi kelebihan tanah secara jelas pada brosur pemasaran, mengatur klausula mengenai kelebihan tanah di dalam PPJB atau Surat Pesanan secara adil dan detail, serta yang paling penting yakni dalam pelaksanaan pengukuran serta penentuan harga, pengembang sangat diharuskan bisa bersikap obyektif dan jujur.

Bahkan jika memungkinkan, pengembang bisa melibatkan konsumen yang bersangkutan saat proses pengukuran ulang/akhir oleh Kantor Pertanahan.

Sedangkan untuk konsumen yang mengalami konflik dengan pengembang atau marketingnya dalam masalah kelebihan tanah, mesti memahami terlebih dahulu bahwa hal ini bisa terjadi dan tak perlu merasa tertipu oleh pengembang.

Asalkan, pihak pengembang melaksanakan pengukuran dan penentuan harga secara obyektif dan bersikap koperatif kepada konsumen

Namun, jika pengembang tak koperatif dan berbohong, langkah awal yang bisa konsumen lakukan ialah mengirimkan surat pengaduan disertai permohonan kepada Kantor Pertanahan setempat untuk melakukan pengukuran ulang yang disaksikan oleh seluruh pihak yang berkepentingan.

Hasil pengukuran ini bisa dijadikan dasar untuk menjalankan pendekatan persuasif kepada pihak pengembang untuk membuat kesepakatan bersama sebelum konsumen memilih untuk menyelesaikannya secara hukum yang berlaku, baik pidana maupun perdata.

Berikut ini cara untuk menghindari terjadinya konflik dengan pengembang terkait kelebihan tanah :

Perhatikan dengan seksama apakah pengembang sudah mengatur klausula mengenai “kelebihan tanah” dalam PPJB maupun Surat Pesanan.

“Dalam setiap transaksi, persiapkan sejumlah dana tunai selain harga transaksi untuk membayar kelebihan tanah, biaya notaris, pajak-pajak terkait, provisi bank, dan biaya-biaya administrasi lainnya,” tambah Cynthia.

Pastikan juga apakah harga kelebihan tanah per meter perseginya sama dengan harga pada awal transaksi serta cermati kembali batas-batas kavling tanah yang dibeli.

Konsumen juga membayar harga kelebihan tanah berdasarkan pengukuran yang sah dari Kantor Pertanahan, bukan berdasarkan pengukuran sementara dari Pengembang atau marketing nakal.