Harga Rumah Subsidi, Seharusnya Berpatokan pada UMR
Ilustrasi (Foto: primaradio)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Patokan harga rumah subsidi harus dipertajam. Bila sebelumnya pemerintah menetapkan patokannya berdasarkan keterjangkauan, kalangan pengembang mengusulkan supaya patokannya berdasarkan pada daya beli.

Ukuran yang dipakai upah minimum regional (UMR). Dengan berpatokan pada UMR masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) memiliki pilihan sesuai dengan kemampuannya atau penghasilannya.

Kini, secara regional disamaratakan, rumah bersubsidi untuk MBR di wilayah Jabodetabek harganya dipatok Rp.141 juta. Sedangkan daya beli masyarakat di setiap daerah berbeda sesuai patokan UMR.

“Di Bekasi dan Cikarang patokan UMR Rp.3,6 juta, di Subang Rp.2,4 juta, jadi gaji yang berbeda harus membeli harga rumah yang sama. Ini salah satu yang membuat penyerapan rumah bersubsidi menjadi terkendala. Harusnya harga rumah disesuaikan dengan UMR di setiap daerah,” imbuh CEO PT Sri Pertiwi Sejati (SPS Group) Asmat Amin, kepada pers di Jakarta, baru-baru ini.

Harga rumah bersubsidi Rp.141 juta ini pun merupakan harga tahun sebelumnya, sekarang harganya sudah berubah. Tahun lalu harganya Rp.133,5 juta dan sebelumnya Rp.126,5 juta. Asmat menilai dengan UMR Rp.3,6 juta, seseorang sanggup mencicil Rp.1,2 juta (sepertiga gaji).

Apabila bunga bersubsidi 5 persen dengan tenor 20 tahun, maka keluar harga rumah sesuai gaji Rp.3,6 juta. Sama halnya jika gaji Rp.2,4 juta dengan kemampuan mencicil Rp.800 ribu.

Dengan pola seperti ini di wilayah yang UMR-nya lebih tinggi bisa memperoleh harga rumah yang lebih tinggi pula. Ini dinilai lebih fair bagi kalangan pekerja dan bank penyalur KPR.

Asmat meminta pemerintah supaya aturan yang dibuat lebih implementatif sehingga bisa digunakan di lapangan. Ia mencontohkan di kota-kota besar seperti Bandung dan Surabaya tak mungkin dibangun rumah bersubsidi sesuai patokan pemerintah.

Rumah Rp.100 Juta

PT Barup Prima Sentosa tengah mengembangkan Grahapura Kemang di Jl Raya Parung-Bogor, Kemang Pendopo. Menurut staf marketing Grahapura Kemang, Fajar, lokasi perumahan ini berjarak 3 km dari Jl Raya Parung-Bogor. Untuk menuju jalan tol Bogor, Jl Baru, dan Stasiun Bojong Gede dapat ditempuh hanya 20-30 menit.

“Perumahan ini dikembangkan sejak 2015 lalu, peminatnya banyak karena harganya terjangkau dan lokasinya strategis. Rumah tipe 36/60 seharga Rp.126,5 juta, bisa dibeli dengan  KPR bersubsidi,” tuturnya kepada pers, Selasa (13/6).

Pembeliannya pun mudah, cukup membayar booking fee Rp.1 juta dengan uang muka Rp.5 juta. Plafon KPR-nya senilai Rp.120 juta. Uang muka dan biaya-biaya sebesar Rp.16,5 juta bisa dicicil 6 bulan. Angsurannya mulai Rp.1,3 juta (10 tahun), Rp.1 juta (15 tahun), dan Rp.835 ribu (20 tahun).

Rumah yang akan dibangun sekitar 400 unit. Fajar mengatakan spesifikasinya telah menggunakan baja ringan dan ada carport. Kawasannya sudah hidup, pasar, klinik, di sekelilingnya tersedia sekolah SD-SMA, dan mini market.