Wasudewan (Foto:dok.inapex)
Country Manager Rumah.Com Wasudewan ketika memaparkan soal kamuflase harga rumah di listing properti. (Foto:dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Maraknya harga rumah yang diposting melalui sejumlah media listing properti ternyata lebih mahal, dibandingkan harga promo pengembang yang terpasang dilokasi proyek perumahan.

Bahkan, simpang siurnya harga properti yang masih marak hingga saat ini, juga dinilai sangat menyulitkan bagi para pencari rumah untuk bisa mendapatkan refrensi sesuai fakta dipasar.

“Inilah salah satu penyebab terbesar frustasi para pencari rumah di Indonesia,” ungkap Country Manager Rumah.Com Wasudewan ketika ditemui INAPEX.co.id usai peluncuran Property Index di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, Rabu (29/3).

Lebih lanjut dikatakan Wasudewan, salah satu penyebab sumber frustasi tersebut karena konsumen properti atau para pencari rumah sering kali memperoleh informasi secara sepihak tentang harga rumah dari produsen.

“Contoh ekstremnya, konsumen mendapatkan informasi harga rumah setiap Senin naik. Kalau setahun ada 48 minggu, berarti naik sekian kali. Ini kan justru membuat mereka frustasi,” ungkapnya.

Wasudewan menambahkan, persoalan lain membuat harga rumah yang diumumkan pengembang makin tidak transparan yaitu karena para spekulan bisa menentukan harga semaunya yang tidak sesuai dengan harga pasar untuk mendapatkan keuntungan maksimal.

Oleh karena itu, masih dikatakan Wasudewan, sangat berdampak bagi para pencari hunian memperoleh informasi harga yang relatif tinggi sehingga unit atau hunian menjadi banyak tak terpakai atau terbeli karena harga tak terjangkau.

Menanggapi fenomena maraknya aksi kamuflase terhadap harga properti yang dinilai sangat membingungkan dikalangan konsumen tersebut, pihaknya menghadirkan Property Index agar para pencari hunian lebih mudah menemukan rumah idaman dengan harga referensi wajar sesuai dengan sentimen pasar.

“Data yang kami sajikan valid karena tidak hanya bersumber dari Bank Indonesia, tetapi juga dari para pemain di industri ini, suplier, analis independen di sektor ini, dan lainnya,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Vice President Economist Bank Permata Josua Pardede juga menjelaskan tentang kondisi ekonomi nasional dinilai mulai membaik. Menurutnya, di tahun 2017 ini pertumbuhan diharapkan dapat mencapai 5,1 persen hingga 5,2 persen.

Membaiknya kondisi ekonomi yang berimbas pada properti, masih dikatakan Josua Pardede, bisa mengurangi potensi kredit macet, terutama Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

“Memang agak butuh waktu juga. Ekonomi membaik, 3-6 bulan berikutnya baru ada perbaikan non-performing loan (NPL). Bukan hanya KPR tapi keseluruhan hampir sama,” ujar Josua.

 

Vice President Economist Bank Permata Josua Pardede. (Foto: dok.inapex)
Vice President Economist Bank Permata Josua Pardede. (Foto: dok.inapex)

 

Selain itu, Josua mengakui sektor properti masih mempunyai peluang untuk tumbuh. Pasalnya, kebutuhan masyarakat akan perumahan masih besar. Kebutuhan ini khususnya pada perumahan menengah ke bawah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Karena permintaan yang besar, kondisi penjualan di sektor perumahan MBR lebih dulu membaik di tengah perlambatan ekonomi. “Makanya, kalau kita lihat ada giat pemerintah dengan mempercepat suplai perumahan MBR,” kata Josua.

Untuk mendapatkan rumah layak huni, sebagian masyarakat masih mengandalkan KPR. Jika pertumbuhan ekonomi kurang baik, maka kemungkinan terjadinya kredit macet lebih tinggi. KPR penting karena sebanyak 77 persen pembeli rumah masih mengandalkan metode pembiayaan ini.

Sementara 16 persen lainnya menggunakan metode pembiayaan tunai bertahap. “(Pembayaran) tunai keras itu hanya 7 persen dari total responden yang disurvei Bank Indonesia (BI). Jadi hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia membayar dalam bentuk tunai,” kata Josua. Mengakhiri pertanyaan INAPEX.co.id, pembayaran secara tunai tidak terlalu populer karena pertumbuhan harga rumah lebih cepat daripada pendapatan masyarakat.