Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

SURABAYA, INAPEX.co.id – Harga lahan yang kian terus meningkat, ternyata bikin tren pembeli properti mulai bergeser ke investasi produk high rise seperti apartemen dan office. Apalagi, pergeseran tersebut bisa dilihat dari komposisi penjualan Pakuwon dalam beberapa tahun terakhir.

“Dari proyek-proyek kami sendiri terlihat ada pergeseran, untuk hunian landed kontribusinya berkurang sedikit dan untuk apartemen mulai naik sedikit. Memang perubahan itu terjadi sedikit demi sedikit karena masih banyak juga orang Surabaya yang belum terbiasa tinggal di ketinggian,” kata Direktur Marketing Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi, di Surabaya, belum lama ini.

Menurutnya, permintaan apartemen di Surabaya saat ini cenderung berkonsep superblok lifestyle atau yang di bawahnya terdapat mal.

Gaya hidup itu berubah layaknya kehidupan di kota-kota besar di dunia, seperti di Hong Kong, Singapura, Malaysia dan Korea Selatan.

Kendati ditahun 2018, Pakuwon Group berhasil membukukan penjualan properti Rp2,2 triliun, sebanyak 28% merupakan penjualan landed house, sebanyak 65% merupakan high rise atau apartemen dan 7% untuk proyek office.

Penjualan tahun ini, diproyeksikan komposisi penjualan Pakuwon untuk proyek high rise bisa meningkat menjadi 67%, hunian landed 24% dan 9% merupakan office.

Lebih lanjut dikatakan Sutandi, target penjualan Pakuwon tahun ini pun diproyeksikan sama dengan capaian 2018 mengingat adanya momen politik dan lebaran di semester I.

“Setelah pemilu, seperti pada 2014 – 2015 sektor properti masih kencang, dan kondisinya akan tidak jauh berbeda dengan sekarang. Maka semester II nanti akan lebih kencang penjualan properti di Surabaya,” ujarnya.

GM Finance Pakuwo, Fenny menambahkan, di awal tahun ini, Pakuwon menggelar pameran tunggal untuk menggenjot penjualan dengan menawarkan berbagai program promo mulai bebas DP, bebas biaya KPA, bebas BPHTB, hingga bebas service charge 2 tahun.

“Kami juga siapkan program cicilan mulai Rp1 jutaan yang bisa menyasar segmen milenial yang lagi tren saat ini, termasuk bekerja sama dengan bank-bank untuk mempercepat proses persetujuan KPR/KPA,” ujarnya.

Berdasarkan catatan Colliers International, pasokan apartemen di Surabaya terus mengalami peningkatan seiring dengan pemenuhan kebutuhan hunian akibat semakin sempitnya lahan dan mahalnya harga lahan di Surabaya.

Pada 2018 tercatat ada sekitar 35.000 an unit pasokan kumulatif apartemen termasuk unit eksisting. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 2017 sekitar 30.000-an unit, atau dengan kata lain ada 4.379 unit pasokan baru atau 48% lebih tinggi dari 2017.

Hanya saja, dari jumlah tersebut tren hunian masih belum ada pergerakan baik apartemen strata tittle maupun apartemen sewa yakni sekitar 50%-60%, lantaran persaingan ketat apartemen sewa dengan hotel.

Khusus 2019, diperkirakan bakal ada 31,471 unit baru yang mulai digarap pada semester I dan II tahun ini dan diproyeksi rampung 2021 oleh sejumlah pengembang besar seperti Ciputra Group dengan apartemen Ciputra Vittorio, Tanrise Group, Gunawangsa Tidar, Puncak MERR, Pakuwon dengan proyek Anderson, hingga PP Properti dengan proyek Grand Sungkono Lagoon.