Hanya Alasan Bisnis, Sanusi KPR Rumah Rp.16,5 Miliar
Mohamad Sanusi (Foto: tempo)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Istri mantan Ketua Komisi D DPRD Mohamad Sanusi menuturkan bahwa pengajuan kredit kepemilikan rumah (KPR) untuk pembelian rumah senilai Rp.16,5 miliar merupakan sebuah alasan yang digunakan ayahnya untuk bisnis.

Rumah milik Sanusi berada di Jalan Haji Saidi Nomor 23A, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan tersebut diduga hasil pencucian uang. Rumah tersebut diatasnamakan mertuanya, Jeffry Setiawan Tan.

Evelien mengatakan bahwa ayahnya yang merupakan pedagang batik memerlukan alasan untuk memutarkan uang. “Jadi nggak ada hubungannya sama beli rumah. Itu biar buat alasan aja,” jelasnya saat ditemui di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Kamis (13/10).

Dalam persidangan Senin lalu, Jeffry mengakui rumah tersebut dibeli olehnya dan ditempati oleh anaknya, Evelien Irawan. Untuk pembelian rumah, Jeffry mengeluarkan Rp.10 miliar.

“Sisanya dibayar anak saya dan suaminya, begitu kesepakatannya,” paparnya saat jadi saksi di persidangan Sanusi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Senin (10/10).

Jeffry menuturkan bahwa semua pembayaran rumah diberikan kepada anaknya secara tunai. Akan tetapi, Jeffry terungkap menggunakan kredit pemilikan rumah (KPR) sebanyak Rp.1,5 miliar di Bank Mitra Niaga untuk membeli rumah milik Trian Subekhi.

Untuk pembelian hunian, Jeffry menyerahkan uang tunai Rp.10 miliar kepada Evelien secara bertahap dari Agustus 2014. Namun, Evelien menjelaskan bahwa seluruh proses pembayaran rumah di Jalan Haji Saidi Nomor 23A tersebut dijalankan oleh suaminya. “Saya nggak tahu pokoknya saya serahkan pembayarannya kepada Bapak (Sanusi),” imbuh Evelien.

Sanusi didakwa melakukan pencucian uang sebanyak Rp.45 miliar berhubungan dengan proyek-proyek di Dinas Tata Air Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Uang tersebut diduga telah alihkan jadi beberapa aset, meliputi bangunan Sanusi Center, rumah di Jalan Saidi, apartemen di SOHO, apartemen di Residence 8, apartemen di Vimala Hills, sampai mobil Jaguar.

Sebelumnya, pembelian satu unit apartemen diatasnamakan sekretarisnya, Gina Prilianti. Ia membetulkan kabar pembelian apartemen senilai Rp.3 miliar tersebut. Menurutnya, pembelian apartemen ini dilakukan pada 2014 oleh Ketua Komisi D dan Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD DKI Jakarta periode 20014-2019.

“Itu milik terdakwa, tapi diatasnamakan saya,” paparnya saat jadi saksi bagi Sanusi. Gina mengaku tidak mengikuti proses pemilihan apartemen. Bahkan untuk harga apartemen juga tak diketahui olehnya.

Penetapan Sanusi sebagai terdakwa pencucian uang adalah pengembangan dari kasus suap reklamasi. Ia didakwa menerima dana sebanyak Rp.2 miliar dari mantan Presiden Direktur Agung Podomoro Land Ariesman Widjaja guna menurunkan besaran kontribusi tambahan proyek reklamasi teluk Jakarta.

(tmp)