Foto bersama acara penadatanganan MoU tentang Pengembangan SDM dan Riset di Bidang Perumahan dengan Katsgama dan FT UGM. (Foto: btn)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Dalam rangka pengembangan sekolah properti atau School of Property Developer (SPD) untuk perumahan, PT Bank Tabungan Negara (persero) Tbk Universitas Gadjah Mada (UGM) khususnya Keluarga Alumni Teknik Sipil (Katsgama) dan Fakultas Teknik UGM bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

BTN sebelumnya juga mendirikan housing finance center (HFC) sejak 2014 silam sebagai komitmennya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia di bidang properti.

“Diharapkan dengan adanya pendidikan ini, pengembang perumahan MBR dapat terakreditasi dan tersertifikasi dari Kementerian PUPR yang sekaligus menjadi standar baru bagi pengembang yang akan membangun proyek perumahan subsidi. Hal ini perlu dilakukan untuk meningkatkan standar mutu (kualitas) rumah yang dibangun pengembang sehingga tidak ada lagi perbedaan kualitas rumah yang dibangun pengembang dengan yang disyaratkan pemerintah,” kata Dirut BTN Maryono usai menandatangani MoU tentang Pengembangan SDM dan Riset di Bidang Perumahan dengan Katsgama dan FT UGM di Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, SPD merupakan program persiapan sertifikasi bagi pengembang–pengembang yang akan membangun perumahan subsidi.

Program pendidikan pengembang ini akan berlangsung selama kurang lebih satu bulan dengan metode pembelajaran meliputi inclass learning, site visit, penyusunan proposal pembangunan proyek perumahan, dan ujian sertifikasi pembangunan proyek perumahan subsidi.

HFC BTN menjadi salah satu bentuk dukungan BTN dalam meningkatkan pasokan rumah dengan mendidik calon-calon pengembang baru di bidang perumahan yang nantinya membangun proyek-proyek perumahan yang sedang digulirkan pemerintah.

Menurut Maryono, jumlah pengembang di Indonesia masih belum cukup dengan adanya backlog perumahan yang mencapai 11,4 juta unit, idealnya dibutuhkan 2.000 pengembang per tahun dengan asumsi per pengembang dapat membangun kurang lebih 400 unit rumah.

BTN berkomitmen tidak sekadar menambah jumlah pengembang properti lewat beragam produk pelatihan maupun pendampingan, tapi juga meningkatkan kualitas pengembang perumahan, khususnya di level pemula.

“Para pengembang harus memiliki kompetensi yang cukup dengan cara mengikuti program sertifikasi. Kementerian PUPR akan menerbitkan sertifikasi khusus pengembang di bidang perumahan,” jelas Maryono.

Untuk memperlancar program sertifikasi, SPD yang melibatkan akademisi dan para ahli bidang properti dari FT UGM dan Katsgama ini akan memberikan pelatihan dan literasi terkait bisnis properti. Materi pelatihan dan pendidikan yang akan diajarkan mengacu pada empat pilar di bidang properti, yaitu perizinan, lahan, permodalan, dan keahlian properti.

Sejak berdiri, HFC BTN telah menyelenggarakan program pendidikan bagi pemgembang pemula, yang bekerja sama dengan School of Business and Management Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) dengan nama Mini MBA in Property yang saat ini sudah berjalan sebanyak 13 batch dan mencetak lebih dari 1.000 calon pengembang.

BTN juga berperan dalam membantu MBR informal dalam membangun rumah secara swadaya melalui skema kolaborasi ABCG (academy, business, community, and government).

Pelaksanaan kolaborasi ABCG ini telah membantu MBR informal di Kabupaten Kendal membangun rumah, dan pada tahun ini program serupa akan diimplementasikan di 16 kabupaten/kota di seluruh Indonesia dengan total rumah sebanyak 300 unit .

Selain produk pembelajaran dan pendampingan, HFC BTN juga rutin membuat kajian mengenai pasokan dan permintaan perumahan, kajian potensi wilayah, indeks harga perumahan atau house price index, kajian agen properti, serta potensi KPR nonsubsidi.