Fungsi Penyedot Debu yang Tidak Diketahui Orang Indonesia
Penyedot Debu (Foto: times)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Penyedot debu atau vacuum cleaner masih belum dijadikan sebagai pilihan sejumlah masyarakat Indonesia untuk urusan bersih-bersih rumah.

Hal tersebut terjadi lantaran masih banyaknya orang memandang sisi yang salah berhubungan dengan alat pembersih rumah ini.

“Saat ini banyak pandangan yang tidak benar tentang vacuum cleaner dan bahkan menjurus ke arah yang salah,” jelas Product Manager of Small Appliances Electrolux Indonesia Marsha Tungka, di Jakarta, Kamis (6/10).

Menurut Marsha, vacuum cleaner dinilai oleh masyarakat Indonesia saat ini masih hanya alat pembersih yang dipakai hanya untuk membersihkan karpet. Tidak hanya itu, alat tersebut dinilai tak dapat membersihkan sebersih sapu, harganya mahal, susah dipakai, dan sulit untuk dibersihkan khususnya pada bagian filternya.

“Fungsi vacuum cleaner ini tidak hanya untuk membersihkan debu di karpet tetapi juga bisa dipakai untuk membersihkan segala jenis lantai dan furnitur seperti rak, lemari, kasur, dan sofa,” kata Marsha.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, untuk menghadapi tugas akhir pada masa pendidikan di jenjang perguruan tinggi, sejumlah mahasiswa Jurusan Desain Interior Universitas Bina Nusantara (Binus) harus menghasilkan sebuah karya.

Selama menjalankan kegiatan kuliah kurang lebih 4 tahun, karya tersebut jadi penentu para mahasiswa dinyatakan lulus atau mesti mengulang.

Di masa pembuatan karya, mahasiswa dapat memilih, mendesain interior sebuah ruangan atau membuat perabot. Untuk beberapa mahasiswa yang memilih membuat perabot, biasanya memakai rotan untuk material utama.

“Bahan yang paling sering dipilih itu rotan karena sangat (mencerminkan) Indonesia. Rotan juga mudah didapat,” jelas Koordinator Laboratorium Desain Interior Binus, Reno, kepada pers di booth pameran Homedec, belum lama ini.

Pada fase memilih bahan inilah, kata Reno, mahasiswa mengerjakannya secara bersama-sama saat penganyam.

Sesudah menentukan bahan yang ingin dipakai, desainer akan percaya kepada penganyam untuk membuatkan model perabot yang sudah didesain. Selama proses pembuatan tersebut, desainer dan penganyam melakukannya dalam waktu satu bulan.

“Waktu penganyaman, biasanya mahasiswa sebulan penuh bolak-balik bersama penganyam, untuk mengecek apakah pembuatan furnitur sudah sesuai desain,” tuturnya.

Reno menambahkan, sebagai tugas akhir ini, mahasiswa yang memilih untuk membuat perabot, dalam satu rangkaian atau set harus menciptakan 5 barang.

(kps)