Presiden Jokowi memasuki Plenary Hall, JCC, Jakarta, untuk menghadiri Economic Talkshow “Ekonomi Baru di Era Digital”. (Foto: Setkab)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Ditengah pergesaran niaga dari dunia offline menuju dunia online seperti di era digital saat ini, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan, adanya perubahan gaya hidup, serta konsumsi konsumen.

“Kita sudah hadapi itu, sudah ada. Daripada orang jauh-jauh ke toko atau ke mall kena macet di jalan, ngantri di kasir. Cuma keluarkan  hape, keluarkan smartphone, buka aplikasi, tik tik tik tik tik, tinggal tunggu barangnya diantar sampai ke rumah,” kata Presiden Jokowi pada acara Economic Talkshow “Ekonomi Baru di Era Digital” sekaligus pembukaan Indonesia Business & Development Expo, di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Rabu (20/9).

Lebih lanjut, Presiden mengaku,  dirinya pesan gado-gado enggak usah datang ke warung gado-gado. Tinggal minta Go Food, 30 menit datang. Beli sate tidak usah datang ke warung sate. Tinggal Go Food 30 menit paling lama satu jam, satenya datang. Ingin nasi Padang juga sama, kalau dirinya di Istana ini ingin nasi Padang ya sudah. “Klik klik klik klik 30 menit, nasi Padangnya nongol,” ucapnya.

Masih dikatakan Presiden, media sosial, yang mengakibatkan pergeseran dari konsumen barang lebih ke konsumsi pengalaman, konsumsi experience. “Yang populer sekarang adalah orang posting di Facebook, posting ke Instagram, posting ke twitter,” ujarnya.

Menurut Presiden Jokowi, sekarang orang atau kita tidak lagi terlalu mengejar barang-barang bermerek. Tidak lagi terlalu ke barang-barang branded.  “Anak muda udah ngomong, wah kuno kayak gitu itu. Beli barang branded, beli barang yang  bermerek, sudah kuno,” ujarnya.

Tapi sekarang yang diincar orang, lanjut Presiden Jokowi, adalah kenang-kenangan, memori, pengalaman-pengalaman itu yang dikeluarkan. Kemudian dipasang untuk selama-lamanya di Facebook, dipajang di Instagram, dan dikeluarkan di Youtube.

Presiden melanjutkan, yang ketiga adalah sharing ekonomi. Sebuah revolusi pada sisi suplai, atau sisi ketersediaan. “Ini juga harus kita lihat, apakah ada pergeseran, apakah ada perubahan, iya. Sekali lagi sharing ekonomi sebuah revolusi pada sisi suplai. Gojek, Grab, Uber, We Work,” ungkapnya.

Dulu, dulu, kata Presiden, orang harus beli mobil. Sekarang tinggal pesan di smartphone, datanglah mobil on demand, pakai Go Car, pakai Grab Car silahkan, pakai Uber silakan.

Dulu, lanjut Presiden, orang harus beli rumah, ini negara lain sudah mulai banyak, orang harus beli rumah. Sekarang tinggal lihat-lihat, lihat-lihat di aplikasi. Bisa sewa kamar atau bahkan sewa rumah tapi hanya untuk satu hari, untuk dua hari, atau untuk satu minggu, atau untuk satu bulan. Pakai Air BnB, pakai Expedia.

“Di Jakarta sudah banyak saya lihat, di Bandung sudah banyak dan di kota-kota besar yang lain sudah banyak, sudah mulai yang seperti itu,” ungkap Presiden.

Presiden mengingatkan, ini kita harus hati-hati akan ada perubahan bukan hanya pola konsumsi, tapi juga pola kerja. Ini akan berubah semuanya. Dan pada pola produksi akan ada perubahan. “Pengusaha hati-hati, yang ingin memulai berusaha juga hati-hati. Ini peluang tetapi juga ada ancaman,” tutur Presiden seraya menambahkan, banyak sekali orang yang bekerja dalam ekonomi digital. Kerjanya  sangat fleksibel, sangat dinamis.

Orang-orang yang menjadi oupir Gojek, supir Grab, supir Uber, orang-orang yang menyewakan satu kamar di rumahnya ke turis melalui airBNB atau Expedia, lanjut Presiden, orang-orang seperti ini mereka seringkali kerjaan utamanya bukan sopir atau punya hotel.  Namun, sopir atau menyewakan kamar menjadi sampingan yang mengisi waktu, atau menguangkan sarana yang nganggur.

“Semuanya nanti akan efisien, efisien, efisien, efisien seperti itu. Nggak ada kamar-kamar kosong atau rumah kosong. Udah sewain aja. Kamar kosong sewain aja, rumah kosong sewain aja,” terang Presiden.

Hal ini, lanjut Presiden, tentunya akan berdampak pada struktur pengeluaran, akan berdampak pada struktur pengeluaran atau spending, atau belanja. Menurut Presiden, perubahan-perubahan seperti ini yang kalau kita tidak cermat dan teliti mengamati bisa  kecele kita, bisa terkaget-kaget kita.

Ia lantas mengambil contoh, dulu orang harus keluar duit Rp50 ribu-Rp75 ribu untuk beli DVD. Sekarang ratusan ribu video gratis di youtube, di facebook, di instagram bisa dilihat, bisa dipakai. Dulu orang harus keluar duit untuk beli buku, beli koran, beli majalah. Sekarang, segala macam berita dan tulisan gratis ada di internet.

Semuanya ini, menurut Presiden Jokowi, tentunya akan berdampak sangat dahsyat pada sisi produksi. Karena itu, Presiden meminta agar produsen harus hati-hati mencermati, meneliti, melihat pola pergeseran ini menuju kemana, karena semua akan punya dampak yang dahsyat pada sisi produksi.

Sekarang, lanjut Presiden, sudah hampir tidak ada toko DVD, semua beralih ke streaming lewat internet. Toko buku semakin sedikit. Toko kamera semakin sedikit, karena kita mengambil foto pakai HP cukup. “Pergeseran seperti ini, orang-orang produksi harus tahu,” ujarnya.