Enaknya Tinggal di Indonesia, Biaya Hidup Termurah Ke-12
Enaknya Tinggal di Indonesia (Foto: youtube)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Indonesia merupakan negara dengan biaya hidup nomor 12 paling murah di dunia dari 15 negara yang terdiri dari negara-negara di Timur Tengah, Asia, dan Eropa.

Berdasarkan rilis New York, indeks biaya hidup di Indonesia ada di indeks 39,35, unggul dari Georgia 39,56 di peringkat 13, Maroko indeks 39,78 di peringkat 14, Filipina di nomor 15 dengan indeks 40.

Itu artinya, biaya hidup di Indonesia, Georgia, Maroko, dan Filipina sekarang ini sebanyak 61 persen sangat murah daripada di New York.

Sementara itu, kedudukan satu negara dengan biaya hidup terendah ditempati oleh India indeks 26,27, Nepal dengan indeks 28,85 di posisi dua , Pakistan 30,71 di peringkat tiga, Tunisia 34,06 di posisi empat, dan Algeria di posisi lima dengan indeks 34,10.

Angka-angka ini memperlihatkan bahwa biaya hidup di lima negara ini rata-rata lebih murah 70-80 persen daripada New York.

Di sisi lain, bila dibandingkan dengan delapan negara di regional Asia Tenggara, Indonesia terletak di urutan ketujuh sebagai negara dengan biaya hidup terendah, hanya kalah dengan Filipina yang memiliki indeks 35,27.

Singapura dengan indeks sebesar 87,83 masih menjadikannya negara dengan biaya hidup termahal di Asia Tenggara, dibelakangnya ada Brunei (54,48) di peringkat dua , Kamboja (44,99) di peringkat tiga, Malaysia di posisi keempat dengan indeks 42,24, dan Thailand (41,98) di posisi kelima.

Terlepas dari itu, pada kesempatan berbeda, survei Bank Indonesia (BI) menampilkan adanya peningkatan permintaan properti komersial pada triwulan III-2016.

Indeks permintaan pada periode ini tercatat sebanyak 128,20 atau tumbuh 0,46 persen secara triwulanan. Peningkatan tersebut lebih tinggi daripada pertumbuhan pada triwulan yang sebelumnya tercatat 0,28 persen.

“Permintaan terhadap properti komersial yang lebih tinggi ini terutama berasal dari segmen perhotelan yang naik 13,51 persen dari triwulan sebelumnya sejalan dengan adanya kegiatan PON dan pertemuan di luar kantor,” papar BI.

Tidak hanya hotel, kenaikan permintaan juga hadir dari pusat konvensi yang menyumbang kenaikan 9,93 persen berjalan dengan tingginya kegiatan pameran otomotif dan biro perjalanan, acara wisuda, dan acara pernikahan.

Dengan adanya kegiatan PON di Jawa Barat September lalu menjadikan Bandung wilayah dengan peningkatan permintaan komersial tertinggi, yaitu 3,8 persen melebihi triwulan sebelumnya.

Pertumbuhan permintaan sangat tinggi juga terjadi di Surabaya. Segmen perhotelan di Kota Pahlawan naik 20,6 persen hingga membuat semua permintaan properti komersialnya tumbuh 2,22 persen dari triwulan sebelumnya.

Secara tahunan, permintaan properti komersial juga memperlihatkan kenaikan sebanyak 1,66 persen, namun melambat daripada kenaikan pada triwulan sebelumnya, yaitu 2,29 persen.

“Kenaikan permintaan terjadi pada segmen apartemen 15,78 persen secara tahunan, terutama di Jabodebek 17,97 persen, khususnya Jakarta seiring dengan tingginya kebutuhan tempat tinggal dekat kantor,” tulis BI.

(kps)