Presiden RI Jokowi Merasa Lega. (Foto: setkab)
Presiden RI Jokowi Merasa Lega. (Foto: setkab)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Realisasi ekonomi di Indonesia pada kuartal III – 2016 terlihat naik mencapai 5,02%,  Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) merasa cukup lega. Sebab, dalam proyeksi sebelumnya perekonomian hanya tumbuh dibawah 5%.

“Perkiraan kita di bawah 5 sedikit. Ternyata alhamdulillah bisa diatas lima sedikit,” ujar Jokowi di Mabes TNI Angkatan Darat, Jakarta, Senin (7/11).

Menurutnya, jika dibandingkan pada periode sebelumnya, posisi kuartal III diakui lebih rendah. Pada kuartal II, ekonomi tumbuh 5,18%. Namun demikian, ternyata lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 4,79%.

Oleh sebab itu, Jokowi optimistis, akan mampu membawa perubahan pada kuartal IV. Realisasi belanja pemerintah diyakini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi.

“Biasanya di kuartal ke-IV itu penggunaan anggaran mulai besar-besaran di situ. Ya kita harapkan dengan trigger dari realisasi pembayaran, realisasi penggunaan anggaran itu akan bisa sedikit lebih baik,” katanya.

Kemudian, asumsi pemerintah pertumbuhan ekonomi 2016 yaitu 5,2%. Pemerintah harus bekerja keras mengejar target itu di tengah kondisi global yang masih belum baik.

“Tapi kita harus tahu juga ekonomi global, ekonomi dunia pada posisi yang terus menerus turun. Itu yang harus dicatat,” tegas Jokowi.

Terlepas itu, secara terpisah Menteri Keuangan Sri Mulyani mengapresiasi terhadap seluruh jajaran DJP karena telah berusaha untuk mencoba mengamankan penerimaan negara.

Namun demikian, Sri mulyani mengakui, kalau penerimaan negara masih jauh dari yang diharapkan. Hal tersebut dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS), yang menilai jika perekonomian RI mengalami pelemahan.

“Kalau dilihat dari sisi permintaan, agregat demand, konsumsi masih tumbuh cukup kuat, belanja pemerintah negatif untuk kuartal ketiga ini karena kita memang lakukan kemarin penundaan dan pemotongan anggaran. Karena memang dari sisi penerimaan, kemampuan kita untuk membelanjai seluruh APBNP 2016 sama sekali tidak akan bisa tercapai,” ujar menghadiri Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Pajak ke-10 di Kantor Pusat Direktorat Jendral Pajak (DJP), Jakarta, Senin (7/11).

Oleh sebab itu, lanjut Sri Mulyani, apabila dilihat dari dasar pertumbuhan ekonomi yang masih lemah, maka penerimaan rutin harus diamankan serta ekstra effort  harus ditingkatkan.

“Saya ingin Kanwil dan Kepala kantor mengecek lagi dari yang disebut penerimaan rutin basisnya, berdasarkan kondisi ekonomi faktual. Untuk Pratama dan Madya, saya ingin meminta lebih keras, karena saya tahu konsumsi masyarakat masih tumbuh sehat,” kata dia.

“Sedangkan dari sisi ekstra effort kita akan melihat dari kombinasi dua hal, pertama Kita akan menggunakan tax amnesty dan kedua dari data ekonomi makro, regional, dan sektoral,” imbuhnya.

Ia juga meminta, supaya Dirjen Pajak dan Kepala BKF untuk memberikan seluruh data dari setiap jajarannya, supaya dapat memberikan gambaran konkrit terkait dengan penerimaan yang bisa diperoleh dari data ekonomi makro, regional, sektoral, maupun data amnesti pajak.

“Saya bukannya tidak ingin kepala kantor tiba-tiba pendapatannya naik dapat angkanya dari langit. Hari ini ngelamun, minum kopi enak, makan pisang goreng terus dapat angka dari langit. Itu bukan ekstra effort, itu namanya nujum. Jadi saya maunya data faktual dari sisi ekonomi makro nasional, regional bahkan provinsi kalau ada,” ujarnya.