Dirut Bank BTN Maryono dan Ketua DPD REI DKI Amran Nukman saat meninjau booth pameran Indoneisa Properti Expo 2017. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id –  Februari 2018 mendatang, diprediksi Indonesia Properti Expo (IPEX) akan mendongkrak pertumbuhan kredit PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN).

Pencapaian itu, optimis setelah melihat data pertumbuhan kredit hingga Agustus 2017 mencapai 21%. Pertumbuhan kredit bank pelat merah ini ditargetkan berada di kisaran 20-21% di akhir tahun ini.

Pertumbuhan kredit BTN di atas rata-rata industri per Juli sebesar 7,9% didukung oleh kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi. Permintaan KPR subsidi belakangan ini mengalami lonjakan cukup tajam.

“Kita pertumbuhannya udah 21%, akhir tahun posisinya masih tetap antara 20-21%. Kita banyak konsentrasi KPR subsidi di mana pertumbuhannya 34%, kalau non subsidi 9-11%,” ujar Maryono dalam Indonesia Banking Expo 2017 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

BTN juga berkomitmen menurunkan suku bunga kreditnya. Hanya saja, penurunan suku bunga kredit BTN dilakukan secara bertahap.

Berdasarkan suku bunga dasar kredit (SBDK) BTN, suku bunga kredit korporasi mencapai 11%, kredit ritel 11,75%, KPR 10,25%, dan non KPR 11,50%. SBDK)l digunakan sebagai dasar penetapan suku bungan kredit yang akan dikenakan oleh Bank kepada Nasabah.

SBDK belum memperhitungkan komponen estimasi premi risiko yang besarnya tergantung dari penilai bank terhadap risiko masing-masing debitur atau kelompok debitur. Dengan demikian, besarnya suku bunga kredit yang dikenakan kepada debitur belum tentu sama dengan SBDK. “Pasti, cuma kita harus bertahap dalam penurunan itu,” kata Maryono.

Terlepas itu, beragam pilihan untuk mempermudah kepemilikan rumah layak huni terus dikembangkan melalui layanan perbankan. Diantaranya seperti membayar Down Payment (DP) besar, dinilai lebih menguntungkan bagi konsumen properti. Pengertian ini, tak hanya sebagai filosofi belaka, namun cara ini bisa dibuktikan saat ingin mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Pasalnya, selam ini masyarakat hanya mendapat informasi tentang kemudahan untuk memperoleh rumah murah tapi tak semua mengerti dan paham terhadap solusinya.

Diantaranya, seperti bagaimana bisa mendapatkan rumah dengan biaya uang muka yang rendah, cicilan yang jangka panjang bahkan hingga bantuan uang muka yang disubsidi oleh pemerintah pusat.

Namun, tidak banyak yang memahami bagaimana sebenarnya strategi yang tepat untuk mendapatkan rumah, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR, Lana Winayanti mengatakan, menabung untuk membayar uang muka atau down payment (DP) menjadi solusi yang lebih tepat bagi masyarakat.

Menurut Lana Winayanti, DP dalam jumlah besar akan memudahkan masyarakat untuk mencicil karena mengurangi jumlah cicilan per bulan sehingga kepastian melunasi rumah pun lebih terjamin.

“Sebenarnya Lebih baik kita membayar DP lebih besar, sehingga cicilan murah. Jadi kita lebih mendorong masyarakat untuk menabung. Kalau saya sih lebih memilih menabung lebih besar sehingga DP nya lebih besar, jadi cicilannya enggak berat,” kata Lana Winayanti, dalam diskusi media di Kementerian PUPR.