ilustrasi. (Foto: Dimas)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Ditahun politik 2019, pertumbuhan kredit diproyeksi moderat. Bahkan, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pencapaian dua digit ditahun 2018 ini, akibat persaingan ketat perebutan dana dan suhu politik yang kian menghangat.

Sementara itu, tercatat hingga September 2018, realisasi pertumbuhan kredit industri perbankan mencapai 12,69%. Kendisi tersebut membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengubah proyeksi pertumbuhan dari 10%—12% menjadi setidaknya 13% pada akhir tahun.

Pencapaian itu merupakan rekor dalam 5 tahun terakhir. Sejak 2014 pertumbuhan tahunan penyaluran kredit perbankan tidak pernah melebihi angka 12%.

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David E. Sumual memprediksi penyaluran kredit perbankan masih tetap bisa tumbuh stabil dua digit.

Faktor hasil pemilihan umum dan pemilihan presiden juga akan menjadi penentu perbankan melakukan ekspansi usaha pada 2019.

“Pertumbuhan 10% sudah bagus tahun depan, tetapi mungkin bisa lebih tinggi. Perlu dilihat hasil pemilu seperti apa. Itu satu faktor eksternal juga,” kata David, belum lama ini.

Secara umum David melihat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 tidak akan berpengaruh signifikan terhadap kebutuhan kredit pelaku usaha. Kedua pasangan tidak memiliki kecenderungan untuk mengubah fundamental ekonomi dalam negeri.

Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa sejumlah debitur kakap yang bergerak pada bidang usaha tertentu terbilang sensitif terhadap kebijakan pemerintah. “Biasanya yang berkaitan dengan natural resources,” kata David.

Direktur Riset Centre of Economic Reform (CORE) Piter Abdullah menuturkan proyeksi pertumbuhan kredit perbankan pada 2019 berada pada kisaran 10%—11%, tergantung dari skenario yang terjadi tahun depan.

Pasalnya, kondisi global arahnya akan tetap sulit ditebak, belum lagi perkembangan perang dagang yang tidak bisa diprediksi.

Sementara itu, dari dalam negeri, usai pemilu tahun depan, pemerintah pasti akan melakukan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Jadi kami lihat paling tidak semester II/2019 BBM akan naik yang berpengaruh pada inflasi dan daya beli. Lalu berpengaruh ke konsumsi dan mengerem investasi yang pada akhirnya demand kredit turun,” ujar Piter.

Adapun dari kategori bank umum kelompok usaha (BUKU), Piter mengakui bank kecil BUKU I dan II tetap yang paling harus menjaga stabilitas kinerja.

Sebab, pengetatan likuiditas akan cukup memukul mengingat bank kategori ini tidak memiliki sumber dana dari luar dan payroll.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira bahkan memiliki angka proyeksi yang lebih ketat. “Pertumbuhan kredit tahun depan diperkirakan bergerak stabil di 8,5%—9,5%,” katanya.

Pasalnya pada tahun politik baik pelaku usaha dan perbankan akan lebih berhati-hati menyalurkan pendanaan. Belum lagi suku bunga acuan Bank Indonesia diperkirakan masih kembali naik untuk menyesuaikan dengan The Fed.

Hal itu secara langsung akan memengaruhi beban debitur. Tidak menutup kemungkinan pelaku usaha akan mencari sumber pendanaan alternatif yang memiliki biaya lebih murah.

“Intinya bank akan sangat selektif salurkan kredit untuk menghindari risiko yang cenderung meningkat,” ujar Bhima.

Menurut Bhima, pada tahun depan, sektor usaha pengangkutan, komunikasi, konstruksi, dan bidang jasa yang terkait dengan wisata seperti perhotelan serta restoran memiliki kebutuhan dana untuk ekspansi.

Adapun proyeksi moderat juga disampaikan Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto yang menyebutkan pertumbuhan kredit 2019 diproyeksikan di level 10,08% sedikit terkoreksi dari pencapaian tahun ini yang 11,08%.

Menurutnya, kendati punya akses lebih baik, bank-bank papan atas, yakni bank umum kelompok usaha BUKU III dan BUKU IV tidak bisa seenaknya melakukan kenaikan bunga untuk menarik simpanan.

“Sebab mereka harus tetap menjaga posisi NIM yang lebar. Apalagi, potensi crowding out juga cukup terbuka seiring kebutuhan pendanaan pemerintah yang terus meningkat,” pungkasnya.