Ilustrasi. (Foto: pixabay)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Pelonggaran pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) dan diskon pajak properti, ternyata mampu mendongkrak indeks saham emiten sektor properti, real estate dan kontruksi sukses menguat 3,67% ke harga 464,18.

“Selain itu juga, keputusan Bank Indonesia (BI) yang disinyalir akan menahan suku bunga acuannya, turut menjadi sentimen tambahan,” kata Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki, di Jakarta, belum lama ini.

Ia mengingatkan, secara historikal, saham properti selalu bullish di Januari. Kendati perlu diingat, dalam indeks Jakarta Property ada saham-saham dari sektor konstruksi seperti WIKA, WSKT, PTPP, ADHI dan saham lainnya.

Apalagi, kinerja saham sektor konstruksi sepanjang 2018 cenderung positif, terlihat dari raihan kontrak baru yang diterima emiten konstruksi sepanjang 2018. Kemudian, penerimaan pembayaran proyek konstruksi dari pemerintah, turut menjadi katalis tambahan saham konstruksi tersebut.

Melihat kondisi tersebut, Yaki menilai beberapa saham properti masih bisa menjadi andalan di tahun ini, hanya saja perlu selektif. Beberapa saham tersebut yakni, saham PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE).

“Selain karena kabar pelonggaran PPnBM rumah mewah, ada juga faktor penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” ujarnya.

Selain itu, saham konstruksi juga masih menarik untuk dilirik tahun ini, khususnya emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti WIKA, WSKT, PTPP dan ADHI.

Sementara itu, kemudahan akses transportasi massal melalui kemudahan infrastruktur, dinilai juga bisa mendorong pembangunan rumah tapak.

Potensi tersebut sangat mendominasi penjualan rumah di Kota Solo, Jawa Tengah. “Ketersediaan lahan di wilayah Soloraya masih sangat mencukupi untuk pembangunan rumah tapak,” ujar Ketua REI Jawa Tengah MR Prijanto di Solo, belum lama ini.

Menurutnya, penjualan rumah di tahun lalu khususnya Jawa Tengah mencapai sekitar 14.500 unit.

Angka ini melejit dua kali lipat lebih tinggi dari tahun sebelumnya sekitar delapan ribu unit untuk seluruh tipe rumah.

“Infrastruktur seperti jalan tol juga memudahkan akses Kota Solo dengan beberapa daerah lain turut memberikan kontribusi pada tingginya permintaan rumah di wilayah tersebut,” jelas Prijanto.

Selain itu, kenaikan didorong seiring kemudahan perizinan bagi pengembang. Termasuk banyaknya perbankan yang menyediakan program kredit pemilikan rumah (KPR).

“Khusus di Jawa Tengah, perbankan yang menyediakan program KPR di antaranya BNI, Bank Mandiri, Bank BTN dan Bank Jateng. Kemudahan ini diharapkan bisa mendongkrak penjualan yang lebih baik di tahun ini,” katanya.