Ilustrasi. (Foto: istimewa)

 

DEPOK, INAPEX.co.id – Dinilai melanggar Peraturan Daerah (Perda), Walikota Depok Mohammad Idris menentang rencana pemerintah pusat untuk membangun rumah murah yang akan dibandrol Rp.141 juta per unit.

Seperti diketahui sebelumnya, rancana pembangunan rumah murah itu dikembangkan diwilayah Depok. Namun demikian, Idris memaparkan, berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) RTRW tahun 2015 dan Perda IMB No. 2 tahun 2016, luas kavling yang diperbolehkan dibangun di Depok adalah 120 meter per segi.

Namun pemerintah pusat merencanakan pembangunan hanya berkisar luas 72 hingga 90 meter persegi. Lebih lanjut Idris mengatakan, pembangunan tersebut harusnya masuk ke hunian vertikal berdasarkan perundang-undangan ROW.

“Itu masuk pembangunan vertikal yang sesuai dengan perundang-undangan ROW. Sehingga saya meminta agar ROW diberikan sebanyak 20 meter karena hingga saat ini untuk dispensasi dari ROW sendiri dalam bentuk pembangunannya belum ada dan itu harus sesuai dengan Perda Kota Depok yang berlaku,” ujarnya, baru-baru ini.

Oleh sebab itu, pelanggaran aturan yang dilakukan pemerintah pusat, Idris menyatakan tidak akan memberikan IMB rumah murah yang dibangun di kawasan Citayam, Depok itu. “Karena dari segi luas bertentangan dengan Perda Depok, maka tidak bisa kita keluarkan IMB-nya. IMB harus sesuai dengan Perda seperti itu,” pungkasnya.

Terlepas itu, menyambut datangnya bulan puasa harga barang dan kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Bahkan beberapa persoalan yang menyebabkan terjadinya kenaikan tersebut. Namun, bagi bisnis jual beli rumah layaknya kacang goreng. Pasalnya, rumah untuk tempat tinggal merupakan kebutuhan yang utama. Hal itu dibenarkan Direktur PT. Madani Kreasi Mas, Putri.

Menurut bos pengembang Telaga Warna, Casa De Bali, dan Grand Menteng ini, setiap datangnya puasa dan lebaran masyarakat akan mendapatkan uang tambahan atau pegangan lebih dari THR. “Kita selalu optimis dengan datangnya bulan puasa. Karena masyarakat akan mendapatkan bonus dan THR pada nanti di waktu lebaran atau Hari Raya Idul Fitri. Tapi, untuk bulan puasa kali ini agak berbeda dengan sebelumnya,” kata Putri, saat ditemui di Bekasi, baru-baru ini.

Menurutnya, bagi para pengembang bulan puasa sangat diharapkan dalam pemasaran perumahan. Lebih lanjut dikatakan Putri, dikarenakan bulan tersebut masyarakat akan mendapatkan THR atau hadiah lebaran.

Namun, katanya, bulan puasa tahun ini agak berbeda karena berdekatan dengan musim masuk sekolah, tahun ajaran baru, dan musim liburan. “Bulan puasa kali ini berdekatan dengan masuknya sekolah dan liburan. Kemungkinan, dana konsumen kesedot untuk sekolah dan liburan,” ujarnya.

Meski begitu, pihaknya selalu berupaya dalam memasarkan perumahan. Salah satunya melalui promo yang umum berupa discount dan bebas biaya surat. Diharapkan, dengan langkah tersebut bisa menarik minat konsumen dalam mengeluarkan dananya untuk pembelian rumah. “Kita terus lakukan upaya promo dan discount agar para konsumen melakukan eksekusi untuk pembelian rumah,” harapnya.

Rumah dengan harga Rp 600 juta ke bawah masih menjadi minat bagi masyarakat. Dengan berbagai momen dan kebutuhan, biasanya para konsumen masih menahan dananya untuk kebutuhan pokoknya.