Ingin Membeli Apartemen di IPEX? Pikirkan Juga Dekorasi Wanita Single
Ilustrasi. (Foto: dok.inapex)

 

SEMARANG, INAPEX.co.id – Meningkatnya daya beli masyarakat terus terlihat pada penjualan properti di Semarang. Kendati, tak sebaik tahun lalu, peningkatan daya beli terus bergulir disejumlah lokasi di Jawa Tengah.

“Tiga bulan lalu, pameran sepi pengunjung sehingga penjualan rendah. Tapi pada pameran Agustus ini penjualannya cukup tinggi,” kata Wakil Ketua Bidang Pembiayaan dan Perbankan Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah, Wibowo Tedjo Sukmono.

Meningkatnya daya beli masyarakat khususnya di sektor properti didorong penurunan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) sebagai dampak penurunan BI rate dari 8,75 persen per tahun menjadi 5,25 persen per tahun.

Berkat penurunan itu, masyarakat bisa menikmati KPR dengan suku bunga 7,75 persen fix selama 2 tahun dengan tenor minimal 5 tahun.

Hasilnya, peningkatan penjualan properti sudah terasa mulai Juli kemarin. “Selama 2 tahun pertama, bunga tidak berubah. Selebihnya KPR mengikuti bunga pasar yang berlaku,” ujarnya.

Wakil Ketua Real Estate Indonesia (REI) Jateng Bidang Pameran, Promosi dan Publikasi, Dibya K Hidayat membenarkan, secara makro ekonomi Jawa Tengah sudah menunjukkan kondisi yang positif. “Di awal tahun memang penjualan masih kurang. Semester II ini menjadi titik balik penjualan properti,” katanya.

Untuk menggairahkan pasar properti, REI juga menggaet seluruh perumahan serta perbankan di Semarang dan sekitarnya untuk bekerja sama dalam memberi kemudahan KPR.

Hasilnya, penjualan properti menunjukan tren positif dengan penjualan rumah mencapai 50 unit pada pameran Agustus ini.

Namun, penjualan properti saat ini masih di bawah penjualan periode lalu. “Semester I tahun 2016, penjualan properti mencapai 308 unit melalui pameran. Pada tahun ini, hanya tercapai 238 unit,” paparnya.

Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mengincar wilayah Jawa Timur (Jatim) karena potensi bisnis properti yang sangat tinggi di daerah tersebut.

“BTN akan mengoptimalkan kerja sama dengan para pengembang untuk membangun rumah rakyat di Jawa Timur,” tutur Managing Director Strategy, Compliance, & Risk BTN R. Mahelan Prabantarikso.

Mahelan mengatakan, perseroan akan kembali menggenjot penyaluran kredit di daerah agar kinerja bisnis perseroan semakin positif dan akan terus menggenjot bisnisnya di daerah.

“Tahun ini kami optimistis kredit akan tumbuh sekitar 21-23 persen. Untuk mencapai target tersebut, kami akan memaksimalkan penyaluran kredit di daerah. Salah satu daerah yang potensial yakni Jawa Timur,” jelas Mahelan saat Public Expose Marathon di Surabaya.

Ia mengungkapkan, per akhir tahun lalu, perseroan  telah mencatatkan diri sebagai pemimpin pasar KPR di Jawa Timur dengan pangsa sebesar 54 persen. Namun demikian, perseroan akan tetap gencar menyalurkan KPR di Jatim, mengingat permintaan hunian di provinsi tersebut yang masih tinggi.

Menurut Mahelan, dari hasil riset BTN menunjukkan permintaan akan hunian di Jatim mencapai sekitar lebih dari 230 ribu unit pada 2017. Namun, pasokan rumah di wilayah ini baru mencapai sekitar tujuh persen dari permintaan atau setara lebih dari 15.000 unit rumah.