Kisah Penjual Bakso Berjuang Miliki Rumah (Bag.2)
Penjual Bakso sangat berharap program KPR Mikro dapat mewujudkan rumah layak huni dikalangan pekerja informal. (Foto: dok.inapex)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Cukup menunjukkan Kartu Identitas Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) sekarang pedagang bakso bisa mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR). Kebijakan tersebut diluncurkan PT. Bank Tabungan Negara (BTN) melalui program KPR Mikro yang menyasar dikalangan pedagang bakso dan pedagang mie.

Para pedagang tersebut merupakan pekerja informal yang selama ini belum pernah bersentuhan dengan layanan KPR karena sebelumnya dinilai dapat menyulitkan kalangan perbankan.

“Kalau buka loket, orang mau mengajukan KPR Anda tinggal di mana, tunjukkan KTP, betul nggak KTPnya, tunjukkan KK, Anda betul nggak kerja di sini, tunjukkan NPWP, semua persyaratan sudah lengkap itu namanya perbankan secara formal, banking sistem, jadi begitu kredit ditandatangani itu orang sudah masuk sistem,” tambah Tenaga Ahli Menteri PUPR Bidang Perumahan dan Permukiman Jehansyah Siregar, belum lama ini.

Seperti diketahui sebelumnya KPR Mikro yang telah diluncurkan Bank BTN itu diperuntukkan bagi pekerja informal sebagai tahap awal akan menyasar Asosiasi Pedagang Mi dan Bakso.

Menurut Jehansyah Siregar, kehadiran KPR Mikro ini pun disambut baik lantaran bertujuan untuk memudahkan pekerja informal bisa memiliki rumah layak huni.

Namun, agar berjalan sesuai harapan, KPR Mikro dinilai butuh perhatian khusus, diantaranya termasuk persoalan prosedur urusan bank. “Nah ini pekerja informal ini kan belum tercatat di dalam sistem, diperlukan satu intermediary sistem, satu sistem pendampingan, satu sistem perantara supaya kelompok informal tadi dengan banking sistem yang formal tadi bisa conected,” kata Jehansyah Siregar.

Jehansyah Siregar menerangkan, fungsi dari pendampingan ini diharapkan dapat menghindari sejumlah persoalan yang justru menimbulkan masalah baru terhadap pekerja informal yang akan mengajukan KPR Mikro.

“Fungsinya untuk menjamin bahwa kelompok ini adalah kelompok binaan, dan lembaga pendamping ini diregistrasi oleh pemerintah. Jadi ada mekanismenya, tidak serta merta Bank BTN itu buka loket. Kalau buka loket yang datang itu misalnya nggak jelas gimana,” lanjut Jehansyah Siregar.

Sementara itu, peluncuran program KPR Mikro disambut antusias dikalangan pedagang disejumlah daerah termasuk di Jakarta. Salah seorang penjual Bakso Malang Saridin (48), mengaku sangat berharap kemudahan bisa mengajukan KPR Mikro tersebut.

Pria kelahiran Desa Muncar, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah itu terlihat optimis bisa mewujudkan impiannya bisa memiliki rumah layak huni.

“Saya bisa berharap ikut mengajukan KPR Mikro itu pak, karena selama ini berjualan bakso bertahun-tahun belum ada perhatian secara maksimal tentang penyediaan hunian bagi kami,” ungkap Saridin.