Cikarang Semakin Menawan Untuk Pembeli Properti
Ilustrasi (Foto: beatradio)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Cikarang, Bekasi, akan semakin menawan menjadi kawasan terintegrasi dan paling siap dikembangkan dalam skala masif. Rencana pembangunan jalan tol Cikampek 2, kereta cepat Jakarta-Bandung, double track, dan perpanjangan commuter line sampai Cikarang akan membuat Cikarang kawasan masa depan.

“Pengembangan infrastruktur akan membuat perkembangan Cikarang semakin pesat dengan terkoneksinya kawasan Lippo Cikarang, Delta Mas, dan Jababeka yang menjadi sebuah kota dengan populasi jutaan orang,” imbuh GM Corporate Marketing PT Grahabuana Cikarang (Jababeka Group) Handoyo Lim, di Jakarta, Rabu (19/7).

Tiga kota baru ini, lanjut Handoyo, kelak akan terintegrasi dengan rencana pengembangan moda transportasi dengan konsep automated people mover concept oleh Jababeka.

Moda tersebut akan menghubungkan serta saling terkoneksi stasiun dan terminal dengan bus feeder dari/menuju Jakarta dan Bandung.

Cikarang layaknya Serpong, Tangerang, pada satu dekade lalu yang kemudian berkembang sangat pesat. Ia optimis booming properti akan terjadi di kawasan tersebut.

Saat ini pun ketika wilayah lain penjualannya merosot tajam kinerja tiga proyek kota baru di Cikarang tetap bagus. Ini juga disebabkan dukungan pemerintah lewat program Kemudahan Layanan Investasi Langsung Konstruksi (KLIK) yang diluncurkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Program tersebut memperbesar pasar sebab bertambahnya tenaga kerja. Dengan program KLIK investor bisa mempercepat beroperasinya pabrik bersamaan mengurus perizinan pabrik dapat langsung dibangun.

Pertumbuhan Green Building

Meski pemerintah sudah menerbitkan regulasi terkait pembangunan bangunan hijau (green building), tak serta merta hal tersebut membuat pengembang mematuhinya. Mahalnya biaya investasi jadi salah faktor penyebabnya.

Aturan tersebut dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Permen PUPR Nomor 2 Tahun 2015 tentang Bangunan Gedung Hijau.

Direktur Sinarmas Land Ignesjz Kemalawarta mengatakan bahwa biaya investasi green building bisa 4-5 persen lebih mahal ketimbang gedung konvensional.

“Dari data, baru ada sekitar 25 gedung yang telah disertifikasi (green building). Sementara di Singapura sudah ada 1.000 dalam kurun waktu yang hampir sama,” jelas Ignesjz saat diskusi bertajuk Greening Indonesia’s Buildings and Industrial Estates by 2020: The Real Cost and The Way Forward di Jakarta, Selasa (18/7).

Menurutnya, pemerintah harus memberikan insentif kepada pengembang untuk menumbuhkan minat mereka dalam membangun green building.

Insentif ini bisa berupa pengurangan biaya pengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), yang selama ini dinilai sangat besar.

“Tapi tidak perlu selamanya ya. Kalau pengembang sudah terdorong, sudah tidak perlu. Begitu market pilih green building, maka tidak perlu ada insentif lagi,” imbuhnya.

Praktik pemberian insentif ini juga dilakukan di negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Oleh sebab itu, menurutnya, wajar jika Pemerintah Indonesia juga menerapkan hal serupa.