Grafik tujuan beli properti di pameran IPEX 2018. (Foto: dok.inapex)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Kendati suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) cenderung naik, namun untuk pencari rumah sebagai hunian sendiri tetap unggul 90%. Sementara investasi properti hanya mencapai 10%. Fakta itu tercermin pada hasil survei pengunjung Indonesia Properti Expo (IPEX) periode September 2018.

“Pencari properti di pameran IPEX 90% adalah pencari rumah untuk dijadikan tempat tinggal sendiri, kemudian 10% yaitu pengunjung yang pilih investasi properti,” ujar Presiden Direktur PT. Adhouse Clarion Events Toerangga Putra, di Jakarta, belum lama ini.

Dilain pihak, Bank Indonesia (BI) juga merilis data survei harga properti residensial di kuartal III-2018. Di pasar primer, harga properti residensial terindikasi melambat.

Pergerakan Indeks Harga Properti Residensial (IHRP) yang tumbuh 0,42% Quarterly-to-Quarterly (QtQ) atau lebih lambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0,76% QtQ.

Secara tahunan (year-on-year/YoY), pertumbuhan IHRP juga menurun dari semula 3,26% YoY di kuartal II-2018 menjadi 3,18% YoY di kuartal lalu. Kenaikan IHRP periode Juli-September 2018 secara tahunan juga masih lebih lambat dibandingkan pertumbuhan di periode yang sama tahun lalu sebesar 3,32% YoY.

Adanya perlambatan dari kuartal sebelumnya tidak lepas dari volume penjualan properti yang melambat cukup signifikan.

Pada kuartal III-2018, penjualan properti terkontraksi alias minus 14,14% QtQ, atau lebih rendah dibandingkan kuartal II-2018 sebesar -0,08% QtQ.

Di periode Juli-September 2018, penjualan rumah tipe menengah turun hingga 11,14 % QtQ, sementara rumah tipe besar turun hingga 11,11% QtQ.

Penurunan terbesar terjadi pada penjualan rumah tipe kecil yang terkontraksi hingga 15,92% QtQ. “Sebagian besar responden berpendapat bahwa faktor utama yang menyebabkan penurunan penjualan rumah pada triwulan III-2018 adalah penurunan permintaan konsumen, terbatasnya penawaran perumahan dari responden, suku bunga KPR yang dianggap masih tinggi, dan harga rumah yang kurang terjangkau oleh konsumen,” sebut BI pada laporannya.

Selain itu, mengenai kredit pemilikan rumah (KPR), rata-rata suku bunga KPR tertinggi per September 2018 berada di Bengkulu (14,48%), Sulawesi Tengah (14,08%), Jambi (13,37%), Gorontalo (13,17%), dan Papua Barat (12,75%).

Sebaliknya, rata-rata suku bunga terendah berada di DI Yogyakarta (8,82%), DKI Jakarta (9,6%), Nusa Tenggara Timur/NTT (10,04%), Sumatera Utara (10,41%), dan Aceh (10,43%).

Kendati demikian, dari seluruh provinsi lokasi proyek (kecuali Kalimantan Utara), terdapat 12 provinsi yang mengalami kenaikan rata-rata suku bunga KPR, di antaranya Bangka Belitung (+0,25%), Kalimantan Barat (+0,03%), Kepulauan Riau (+0,14%), Sulawesi Selatan (+0,15%), DKI Jakarta (+0,13%), Gorontalo (+0,04%), Kalimantan Tengah (+0,08%), Banten (+0,02%), dan Sulawesi Tenggara (+0,09%).

Sementara tiga provinsi dengan kenaikan tertinggi adalah Sulawesi Tengah (+1,59%), Jambi (+0,89%), dan Maluku (+0,49%). Adapun, 21 provinsi lainnya mencatatkan penurunan rata-rata suku bunga KPR.

Penggunaan fasilitas KPR masih menjadi favorit masyarakat. Dari hasil survei BI di kuartal III-2018, sebesar 77,20% responden menggunakan fasilitas ini untuk melakukan pembelian properti residensial. Persentase ini naik dari kuartal sebelumnya sebesar 75,21%.

Di sisi lain, sebanyak 16,13% menggunakan uang tunai secara bertahap, dan 8,66% melakukan pembayaran tunai. Permintaan KPR yang meningkat lantas berkontribusi terhadap pertumbuhan kredit tersebut.

Pada kuartal III-2018, pertumbuhan KPR dan kredit pemilikan apartemen (KPA) tumbuh hingga 6,45% QtQ, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya 3,28% QtQ. Secara tahunan, angka tersebut melesat dari 13,52% YoY menjadi 17,31% YoY.

BI memprediksi, harga properti residensial akan meningkat pada kuartal IV-2018. Hal itu terindikasi dari kenaikan IHPR yang sebesar 0,52% QtQ, atau lebih tinggi dibandingkan kuartal III-2018. Kenaikan harga terjadi seiring ekspektasi kenaikan harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja di periode Oktober-Desember 2018.

Meski demikian, secara tahunan, pertumbuhan harga properti residensial masih diperkirakan melambat ke 3,14% YoY di kuartal IV-2018, dari kuartal sebelumnya sebesar 3,18% YoY.

Melambatnya kenaikan harga diprediksikan terjadi pada rumah tipe menengah dan besar, masing-masing 3,06% YoY dan 1,66% YoY (kuartal III-2018) menjadi 2,72% YoY dan 1,64% YoY (kuartal IV-2018).

Sedangkan, pada rumah tipe kecil, kenaikan harga rumah diperkirakan meningkat menjadi 5,09% YoY pada kuartal IV-2018, dari kuartal sebelumnya 4,85% YoY.