ilustrasi (dok: itawakitsumaki)
ilustrasi (dok: itawakitsumaki)

JAKARTA, INAPEX.co.id – Bagi kaum millenials yang mencari nafkah serta nge kos atau bermukim di Jakarta ditambah lagi dengan penghasilan yang pas-pasan, jika melihat harga properti atau hunian belakangan ini yang terus melonjak, tentu membuat kecematan dalam diri apakah mampu membelinya atau tidak.

Diprediksi, peningkatan harga jual rumah dalam lima tahun mendatang bisa mencapai 150 persen, sedangkan kenaikkan penghasilan pegawai atau karyawan di Jakarta hanya sebesar 60 persen dalam rentang waktu yang sama. Di Jakarta saja, tercatat hampir seratus persen harga properti yang ada, di jual dengah harga diatas Rp 400 jutaan. Sedangkan penghasilan kaum millenial hampir rata rata berpenghasilan di bawah Rp 12 jutaan.

Riset dari salah satu media online di Jakarta menunjukkan di Jakarta hanya 17 persen kaum millenial yang mampu membeli rumah bekas seharga Rp 300 jutaan dalam beberapa tahun belakangan ini. Selebihnya, tidak mampu membeli properti perumahan di Jakarta, karena penghasilan mereka diangka rata-rata Rp 7,5 juta per bulan.

Sejauh ini, salah satu solusi agar millenials bisa memiliki rumah adalah dengan mencicil (KPR). Tetapi, sebelum masuk ke KPR, calon pembeli harus menyiapkan DP nya terlebih dahulu dan walaupun saat ini nilai DP telah diturunkan menjadi 15% untuk rumah pertama, dengan tingginya harga rumah tersebut, seringkali DP tersebut menjadi kendala mengingat jumlahnya tidaklah kecil. Sesuai dengan peraturan LTV yang ada, DP tersebut harus datang dari konsumen dan bank hanya bisa memberikan kredit maximum 85% dari nilai rumah tersebut.

Menurut Angela Oetama, salah satu co-founder Gradana.com, yang jadi persoalan utama adalah DP. “Boro boro DP bisa masuk ke KPR. Jika DP ini bisa di angsur maka akan sangat membantu kaum millenial dalam kepemilikkan rumah,” jelas Angela Oetama, di ruang kerjanya, di Jakarta.

Sementara itu, untuk metode cicilan baru sedang menjadi sebuah trend di kalangan millenial adalah dengan cara mencari lender atau pemberi pinjaman yang bisa  membiayai angsuran uang muka rumah.

Metode ini, menurut Angela Oetama, melalui pinjam meminjam berbasis teknologi atau dengan istilah lain di sebut P2P lending. Seperti yang di lakukan perusahaannya yang fokus pada pembiayaan down payment properti.

“Bila di hitung dengan sebuah perbandingan, maka kenaikkan gaji karyawan dengan kenaikkan harga perumahan sekariang ini sudah tidak terkejar. Bayangin, mau beli rumah harga 800 juta, perlu uang muka minimum 120 jutaan (15% DP).” Angela.

Ditambahkan Angela, kalau millenial sekarang ini memiliki penghasilan Rp 10 juta perbulan, maka dengan kehidupan kota metropolitan seperti sekarang ini, maka hanya bisa berhemat Rp 3 jutaan untuk di tabung. Jadi kalau untuk menutup DP harga rumah bisa memakan waktu 40 bulan atau sekitar 3 tahun baru bisa melunasi DP-nya saja.

“Padahal lewat dari 3 tahun, maka harga perumahan sudah meroket tajam, dan DP sebuah rumah baru pun ikut membayangi kenaikkan harga rumah tersebut. Alhasil, kaum millenial tidak bakalan bisa kebeli tuh rumah,”terang Angela Oetama.