Benarkah, Konsumen Hanya Mampu Cicil Rumah Rp.500.000/bulan?
Ilustrasi (Foto: hipwee)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id – Perum Perumnas menjalankan riset internal dengan total responden 11.600 responden di 28 kota. Ternyata, konsumen hanya mampu cicil rumah Rp.500.000/bulan.

Riset tersebut dilaksanakan untuk memperlihatkan kemampuan masyarakat dalam membayar cicilan, faktor pertimbangan dalam membeli rumah, serta preferensi tempat tinggal.

“Fakta menariknya, kami melihat dari konsumen Perumnas mayoritas berada di desil 3. Ini dengan asumsi cicilan per bulan yang mampu adalah sekitar Rp.500.000 per bulan,” tutur Ketua Tim Teknis Rumah Precast Fajri Ariefianto di Kantor Perumnas Regional 3, Klender, Jakarta, Rabu (19/7).

Dia menuturkan bahwa berdasarkan data itu, konsumen yang terletak di kategori desil 3 rata-rata 40 persen.

Angka tersebut dengan rincian masing-masing daerah, yakni Sumatera 46,8 persen, Sulawesi 45,7 persen, Jawa 38,2 persen, dan Kalimantan 29,5 persen.

Menurut hal ini, bisa disimpulkan bahwa kemampuan masyarakat masih rendah dalam mencicil rumah, sedangkan di sisi lain, kebutuhannya sangat besar khususnya pada kelas menengah ke bawah.

“Oleh karena itu tim teknis melakukan kajian kontruksi yang lebih cepat agar pada gilirannya menekan biaya produksi,” jelas Fajri.

Perumnas juga melakukan uji coba pada 2 rumah contoh pracetak. Hasilnya memperlihatkan bahwa penggunaan beton precast dengan tebal dinding 7 sentimeter pada rumah tapak bisa menurunkan harga konstruksi.

Sebelumnya, harga konstruksi sebanyak Rp.1,8 juta per meter persegi menjadi Rp.1,2 juta sampai Rp.1,4 juta per meter persegi.

Sedangkan dari segi kesiapan, dinding beton pracetak mempunyai tekstur halus dan siap pengecatan. Adapun dari segi waktu kontruksi, rumah pracetak diyakini dapat rampung dalam kurun waktu 2 minggu.

Perum Perumnas merencanakan pembangunan perumahan memakai metode pracetak atau precast sebanyak 500 unit tahun ini.

Menurut Direktur Utama Perumnas Bambang Triwibowo mengembangkan rumah dengan teknologi pracetak dapat menghemat waktu dan tenaga.

“Kami akan coba di lahan-lahan kita yang landed (tapak) dan akan bangun di Cibungbulang, Bogor,” imbuh Bambang.

Dia mengatakan bahwa penggunaan teknologi pracetak adalah inovasi dari Perumnas sebab terinspirasi pembangunan rumah di Aceh setelah Tsunami.

Menurut Bambang, pembangunan rumah di daerah itu cukup cepat karena memang diperlukan masyarakat.

Ia juga mengklaim, rumah pracetak Perumnas anti gempa. Tidak hanya itu, penggunaan teknologi pracetak juga dalam rangka Perumnas mendorong program Sejuta Rumah.

Ini merupakan upaya Perumnas sebagai pengembang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditunjuk pemerintah untuk memenuhi kebutuhan perumahan masyarakat.

Menurut Direktur Korporasi dan Pengembangan Bisnis Galih Prahananto di Cibungbulang, pengembangan 500 unit rumah adalah tahap awal.

“Kapasitas real estate itu 40 hektar. Kalau dikali 60 unit per hektar, berarti 2.400-2500 unit,” tutup Galih.