MBR Kesulitan Akses, Lokasi Rumah Murah Semakin Jauh
Lokasi Rumah Murah Semakin Jauh (Foto: solopos)

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Ketika bisa membeli rumah murah, namun terkendala dengan lokasi yang sangat jauh dari perkotaan tak perlu dipertimbangkan lagi.

Sekarang ini yang bisa dijadikan dasar keputusan untuk memiliki rumah sendiri yang terpenting aksesnya bagus.

Kendati lokasi rumah sangat jauh, tak beda pentingnya ketika bisa ditempuh dengan jarak yang sangat dekat. Apalagi bisa ditempuh dengan hitungan menit, untuk menuju ke pusat kota maupun ke lokasi tempat bekerja.

Seperti diketahui sebelumnya, pertimbangan itu berangkat dari keraguan konsumen properti khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang kesulitan mencari rumah murah.

Bahkan backlog rumah berskala nasional mencapai  11,4 juta unit. Terutama di DKI Jakarta sekitar 1,3 juta unit. Sejumlah upaya dijalankan pemerintah untuk menyediakan rumah layak huni bagi MBR mulai dari sisi regulasi maupun pembiayaan.

Dosen Kelompok Keahlian Perumahan Permukiman Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SKPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Jehansyah Siregar memaparkan, perumahan MBR tak dapat disediakan lewat sistem rumah milik saja.

“Lokasi-lokasi rumah murah makin jauh dari pusat kota. Seperti kalau di Jabodetabek, MBR tidak bisa punya rumah lagi di Bogor, Tangerang, dan Depok,” papar Jehansyah kepada pers, baru-baru ini.

Ia menuturkan bahwa perumahan MBR yang disediakan pengembang, atau rumah sederhana tapak, dibuat dengan sistem rumah milik lewat bisnis properti.

Rumah tersebut khusus untuk MBR, karena memperoleh subsidi. Akan tetapi saat pelaksanaannya, lokasi terletak sangat jauh dari pusat kota. Namun persoalan lokasi tersebut masih tertolong dengan adanya akses jalan yang dapat dijangkau dengan mudah.

Ia mencontohkan rumah MBR di Bekasi juga sudah tak ada yang dibangun di tengah kota, maka dari itu konsumen mesti bergeser hingga mendekati Karawang. Padahal, Karawang juga sedang dipersiapkan jadi kota baru.

Kelompok MBR yang bekerja di kota dan memerlukan hunian seperti perkotaan pun menghadapi dilema.

“Di satu sisi, dia (MBR) membutuhkan rumah tinggal. Di sisi lain, tempat kerjanya di kota jauh sekali. Kalau ambil rumah di Ciseeng atau di ujung Karawang sana, bisa 2 jam ke Jakarta,” tutur Jehansyah.

Ia menambahkan, pengembang tentu mencari untung dari penjualan rumah ini. Sedangkan untuk harga tanah di Jabodetabek sudah tinggi, dengan kisaran rata-rata Rp.200.000-Rp.400.000 per meter persegi.

Padahal, pengembang hanya bisa memperoleh untung yang lumayan banyak jika harga tanahnya Rp.100.000 per meter.

“Di Jabodetabek, di mana tanah harga segitu? Adanya di ujung-ujung Jabodetabek. Itu sangat tidak memadai untuk hunian layak yang menudukung pekerjaan dan karir keluarga MBR di perkotaan,” jelas dia.

Dilema tersebut, tambah dia, di sejumlah negara solusinya bukanlah rumah tapak sederhana. Solusi rumah MBRnya berupa rumah susun sewa yang disediakan pemerintah.

Lokasi-lokasi yang direncanakan, disediakan prasarana dan transportasi, seperti jaringan kereta. Itu beberapa hal yang dilakukan kota-kota besar dunia, di Amerika dan Eropa.

“Masyarakat kelas bawah dilema, karena enggak murah lho, sebulan Rp.1 juta walaupun itu cicilan paling murah sekarang,” jelas Jehansyah.

(kps)