Haruskan Berinvestasi Untuk Jangka Panjang?
Berinvestasi Rumah (Foto: rumahc21mediterania)

 

JAKARTA, INAPEX.co.id, – Berinvestasi telah populer di kalangan menengah ke atas di Indonesia. Namun, berinvestasi harus disertai pengelolaan keuangan yang baik, memilih portofolio yang tepat, dan menentukan tujuan investasi yang jelas dalam jangka panjang.

Ini yang belum ada pada sejumlah investor di Indonesia. Orang hanya berinvestasi begitu saja tanpa tujuan yang jelas.

Survei Manulife, perusahaan asuransi jiwa dan manajemen aset menuturkan bahwa, investor di Indonesia hanya fokus pada perencanaan keuangan jangka pendek saja.

Survei bertajuk Manulife Investor Sentiment Index (MISI) di Asia tersebut didasarkan atas 500 wawancara online di Malaysia, Hong Kong, Taiwan, Tiongkok, Singapura, Jepang, dan Filipina, serta wawancara tatap muka di Indonesia dengan responden dari investor kelas menengah berpenghasilan di atas Rp.4 juta dan umur di atas 25 tahun.

MISI mengungkapkan bahwa lebih dari separuh investor (53%) membelanjakan 70% atau lebih penghasilannya setiap bulan, 1 dari 10 investor bahkan lebih dari 90%.

Tidak hanya itu, 1 dari 4 investor akan meminjam uang dalam waktu tiga bulan bila kehilangan sumber penghasilan utama. Hasil ini menjelaskan bahwa mereka begitu mengandalkan penghasilan bulanan dan hanya mempunyai sedikit simpanan.

Sekitar 40% investor tak memantau pengeluarannya yang kian buruk pengelolaan arus kas bulanan mereka.

Meski hanya 1 dari 5 investor di Indonesia sekarang ini yang berutang, pengelolaan keuangan yang buruk tersebut dapat membuat tren berutang di masa depan.

Survei juga menemukan, kebanyakan orang Indonesia tidak bisa menyimpan dana untuk kebutuhan jangka panjang. Lebih dari 70% investor tak punya target jumlah dana simpanan.

Bahkan, investor yang memiliki target dana simpanan, sebanyak 76% target simpanannya hanya untuk 1-4 tahun ke depan.

Kemudian, rata-rata investor memposisikan sepertiga (33%) dana simpanannya di tabungan atau deposito tanpa tujuan tertentu. Sisanya berbentuk dana properti (14%), dana darurat (13%), pendidikan (19%), dan dana pensiun (10%).

Biaya pendidikan anak atau pernikahan anak serta biaya kesehatan jadi dua prioritas tujuan keuangan jangka pendek dan menengah sebagian investor. Simpanan untuk dana pensiun hanya berada di posisi keempat.

“Padahal, dengan meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Indonesia secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir, adalah memprihatinkan jika persiapan dana pensiun tidak menjadi prioritas keuangan yang utama,” kata Chief Agency Officer PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Rusli Chan, saat memaparkan MISI, belum lama ini.